KEDIRI, JP Radar Kediri - “Sek to aku aja dijak ngomong terus (sebentar, aku jangan diajak berbicara terus, Red,” ucap wanita dengan badan dan pakaian yang terlihat sangatt lusuh ini lirih. Nyaris tak terdengar. Dengan terus meringkuk di kursi kayu. Memeluk kedua lutunya erat-erat.
Perempuan yang rambut keritingnya sebagian telah memutih itu terus menggumamkan sesuatu. Tapi dengan suara yang lirih.
Nyaris tak terdengar. Kalaupun bisa didengar telinga, artikulasinya tidak jelas. Hanya bisa lewat saja tanpa bisa dimengerti maksudnya.
Dia adalah Cuklik Kembang Luntas, demikian dulu orang tuanya memanggil. Nama aslinya adalah Mus.
Kini, usianya sudah melewati setengah abad, sudah 53 tahun.Warga Kecamatan Mojoroto ini adalah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang nyaris menghabiskan separuh usianya dalam kondisi dipasung.
“Itu mbahnya dulu menyebutkan seperti itu, Cuklik Kembang Luntas,” terang Tis, bude yang selama ini merawat. Wanita itu menerangkan asal-usul kenapa Mus mendapat julukan Cuklik Kembang Luntas.
Cuklik sendiri bermakna kecil. Sedangkan kembang luntas bila dibahasa-Indonesiakan adalan bunga beluntas.
Mungkin, panggilan sang nenek itu merunut pada tubuh Cuklik yang memang perawakannya kecil.
Ironisnya, nyaris 35 tahun dihabiskan Cuklik di pasungan. Memang, bukan dengan kaki dikerangkeng di balok, melainkan dikurung dalam kamar.
Toh, tetap saja tak menghilangkan fakta bawa wanita ini kehilangan hak-haknya. Terutama dalam mendapatkan akses pengobatan.
“Saya buatkan kamar sendiri di belakang. Tapi ya nggak pernah saya kunci. Hanya saya beri pagar kalau sewaktu-waktu lari,” terang Bag, suami Tis, menunjuk ruangan berukuran 3x3 meter.
“Ngamuke jane mboten (sebenarnya tidak mengamuk, Red),” lanjut Bag.
“Sek isa mlaku disek ngamuke mesti apa-apa diguwaki. Klambi diguntingi. Njegur sumur barang (ketika masih bisa jalan dulu mengamuknya selalu semua dibuang. Baju diguntingi. Masuk ke sumur juga, Red),” Tis menimpali penjelasan suaminya.
Pasangan suami istri yang merawat Cuklik ini sudah sama-sama berusia 70 tahun. Dengan telaten keduanya merawat keponakan yang sudah ditinggal mati kedua orang tuanya itu.
Sayang, kondisi ekonomi yang pas-pasan membuat mereka tak bisa maksimal melakukan perawatan. Hanya sekali Cuklik dibawa ke rumah sakit jiwa.
Setelah itu, dia tak lagi berobat. Bahkan, keluar dari kamar pun tak pernah.
“Saat itu obat dari (rumah sakit di) Malang sudah habis, saya usahakan dari apotek sini. Tapi tidak dapat surat (turunan resep, Red) dari sana. Sebenarnya setelah berobat dari Malang sana sudah lumayan. Tapi ya maklum, nggak ada tiyang sepuhnya (orang tua sudah meninggal, Red),” beber Bag.
Di teras rumah Bag berbagi cerita. Tentang awal mula nasib si Kembang Beluntas bisa berubah drastis. Dulu, Cuklik adalah gadis mungil dengan wajah yang cantik.
“Waktu muda dulu cantik anaknya. Kata orang, mirip Eri Susan,” kenang Tis, sambil menyebut nama artis yang beken di era 90-an. Beberapa petugas dari Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jatim mendengarkan cerita sang bude itu.
Sayang, ketika SMK, Cuklik sering mendapat perundungan dari teman-temannya. Pemicunya adalah kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan. Cuklik tak bisa membayar biaya ujian pada saat itu.
Kondisi itu diperparah dengan suasana di rumah yang tak nyaman. Kedua orang tuanya selalu ribut, bertengkar.
“Orang tuanya juga tukaran (bertengkar, Red) terus tiap hari. Pagi, siang, sore, bocahe akhirnya shock. Anak satu-satunya juga, akhirnya jadi pelampiasan,” kenang Tis, sambil memeluk seorang cucunya.
Sebenarnya, Mus muda masih punya semangat kembali bersekolah. Sayang, akses pengobatan pada gangguan jiwa tak dimiliki keluarga ini.
Jadinya, dia mengisi masa remaja hingga dewasa dengan menarik diri dari lingkungan. Hidup di dunia sempit, seluas kamar tempat dia dipasung.
Untungnya, Selasa (24/9) lalu, Cuklik menjadi satu dari delapan ODGJ di Kota Kediri yang berhasil dibebaskan dari pasung. Di satu sisi, tentu itu menjadi kabar baik bagi pasangan Bag dan Tis.
Karena keponakannya itu akan diboyong untuk berobat di rumah sakit jiwa. Tapi, di sisi lain, rasa waswas tetap ada. Karena itu perasaan berat masih mereka tampakkan ketika melepas si Bunga Beluntas.
“Digawakne jajan apa gak (dibawakan jajan atau tidak, Red)? Untuk di jalan kalau lapar,” ucap Tis, sembari membungkus beberapa makanan ringan ke dalam kantong plastik. Jajanan itu kemudian diserahkan ke keponakannya itu.
Dengan Langkah terseok-seok, karena kakinya lama tidak dipakai berjalan, Cuklik digandeng petugas menuju mobil siaga.
Sang ODGJ sempat menunjukkan gesture penolakan. Tapi, pegangan petugas terlalu kokoh.
“Ayo, jalan-jalan ya,” bujuk pekerja sosial yang mendampingi.
Kisah Cuklik si Kembang Luntas ini contoh masih lemahnya pengawasan pemerintah terhadap pemenuhan hak-hak hidup masyarakat.
Pun dengan minimnya pemahaman masyarakat terhadap upaya-upaya merawat jiwa.
Bag dan Tis mungkin memang tidak punya pilihan lain kecuali memasung sang keponakan. Keterbatasan fisik yang semakin menua membuatnya tak lagi bisa merawat secara maksimal. Selain itu, mereka juga tidak memiliki privilese cukup terhadap akses kesehatan.
“Yang saya khawatirkan itu cuma nanti kalau ditinggal saya dan istri, siapa yang akan merawat. Anak-anak apa ya mau? Semua sudah punya keluarga sendiri-sendiri,” kata Bag lirih.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah