KEDIRI, JP Radar Kediri- Jambu adalah salah satu desa di Kecamatan Kayenkidul. Di sana, kerukunan sangat terjaga.
Warga Hindu dapat hidup dengan tenang. Tanpa adanya intimidasi. Bahkan, mereka bisa menggelar pawai ogoh-ogoh setiap tahunnya.
Pawai ogoh-ogoh di Desa Jambu rutin digelar setiap tahun. Tidak ada yang mempermasalahkannya.
Bahkan, semua mendukung acara tersebut. Meskipun, umat Hindu di sana hanya Sebagian kecil saja.
Kerukunan di sana memang terjaga. Warga mayoritas dapat mengayomi dan menghargai sesamanya.
Hingga umat Hindu setempat bisa memperingati rangkaian hari raya dengan nyaman. Tak terkecuali hari raya Nyepi.
Kepala Desa Jambu Agus Joko Susilo juga sangat mendukung acara tersebut. Tak hanya demi menjaga keberagaman.
Namun, kegiatan tersebut memiliki banyak dampak positif. Salah satunya menumbuhkan kreativitas pemuda setempat. “Ogoh-ogoh tersebut merupakan kreasi warga,” ujar Agus.
Ogoh-ogoh tersebut lantas diarak keliling kampung. Setelah itu, lima patung raksasa tersebut dibakar di perempatan jalan tak jauh dari pura desa.
Acara tersebut sukses menarik minat banyak pengunjung. Warga sudah menunggu di rute pawai.
Puncaknya, saat ogoh-ogoh tersebut dibakar. Seketika api menyala, para pengunjung langsung bersorak gembira. “Banyak yang tertarik melihat pawai ini,” ucap Agus.
Terbakarkanya ogoh-ogoh sekaligus menjadi prosesi akhir sebelum umat Hindu merayakan Nyepi.
“Ogoh-ogoh merupakan simbol, perlambangan dari sifat buruk manusia. Jadi harus dilebur, caranya dibakar,” kata Yoga Kusuma, salah satu panita.
Pemuda 26 tahun tersebut menilai Tawur Agung Kesanga tahun ini terasa lebih spesial.
Pasalnya, pemuda Hindu di Kabupaten Kediri mengadakan festival ogoh-ogoh mulai dari tugu Garuda Pare hingga Taman Makam Pahlawan.
Lebih lanjut, keberagaman di Desa Jambu memang sangat kental. Di sana terdapat beberapa pemeluk agama.
Pembuatan ogoh-ogoh tersebut juga tak jarang dibantu warga atau pemuda yang beragama Islam dan Kristen.
Kades Jambu Agus Joko Susilo Jaga Lingkungan dengan Gemar Tanam Bibit Buah
Budidaya bibit di Desa Jambu dikenal luas di Kabupaten Kediri. Tren tersebut tidak lepas dari peran besar Agus Joko Susilo.
Sang kades itu memiliki peran sentral. Dia menggerakkan warganya untuk gemar menjaga lingkungan.
Yakni dengan merawat dan menanam buah-buahan. Salah satunya tanaman alpukat.
“Saya ingin kita mengonsumsi buah-buahan lokal. Makanya saya gemar menanam bibit buah,” ujar Agus.
Kegemarannya menanam tumbuhan sudah muncul sejak Agus duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).
Hobinya itu tak bisa lepas begitu saja. Hingga dewasa terus melekat dalam dirinya.
Dia menggeluti hobinya tersebut karena berharap mampu menjaga ekosistem di desanya.
“Saya sering sosialisasikan ke warga-warga untuk gemar menanam. Karena buahnya mampu dikonsumsi. Terutama buah lokal,” terangnya.
Semenjak Agus menjadi kades, dia bersama warganya kerap mendirikan taman yang memiliki unsur edukasi.
Itu menjadi salah satu upayanya untuk mengenalkan wawasan tentang bercocok tanam.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah