Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Erwan Yudiono, Kolektor Benda-benda Bersejarah Asal Kediri

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Jumat, 20 September 2024 | 18:07 WIB
JEJAK SEJARAH: Erwan Yudiono, kolektor benda-benda bersejarah menunjukkan berbagai jenis koleksinya.
JEJAK SEJARAH: Erwan Yudiono, kolektor benda-benda bersejarah menunjukkan berbagai jenis koleksinya.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Laki-laki berjanggut  tipis itu sangat antusias. Tangannya cekatan mengeluarkan kotak-kotak plastik. Membukanya satu per satu. Sambil menunjukkan benda yang ada di dalamnya.

“Ini koin yang tertua,” ucapnya. Matanya melebar, menunjukkan raut kegembiraan. Sembari terus menerangkan apa-apa yang mengitari kisah kepingan logam bundar itu.

"Kalau berdasarkan bukunya David Hartill,  Cast Chinese Coins: A Historical Catalogue, koin ini ada pada masa kekuasaan Wang Mang. Atau sekitar tahun ketujuh sampai 23 masehi," lanjutnya.

Ketika menerangkan itu pria ini memegang sebuah buku. Sambil menunjukkan catatan di salah satu lembar karya penulis David Hartill tersebut.

Wajar bila lelaki ini sangat fasih menerangkan benda-benda bersejarah. Dia adalah Erwan Yudiono.

Selain seorang kolektor benda bersejarah, Erwan merupakan salah seorang penggagas terbentuknya Pelestari Sejarah dan Budaya Kadhiri (Pasak).

Komunitas yang berisi pecinta sejarah dan budaya.

Pria ini memiliki banyak koleksi uang koin dengan lubang di bagian tengahnya itu. Ditempatkan dalam buku bersampul kulit. Berasal dari berbagai masa. Terutama yang berasal dari Tiongkok dan digunakan untuk bertransaksi di masa lampau.

Seperti koin yang dia sebut sebagai yang tertua itu, bila ditelusuri berasal dari Dinasti Xin, dinasti yang dibentuk oleh Wang Mang.

Koin-koin itu kebanyakan dia dapatkan dari teman-temannya yang senang mencari benda kuno di Sungai Brantas.

“Sebagian gratis, sebagian ya didapat dengan membeli,” terang Erwan.

Kenapa benda seperti itu banyak ditemukan di Sungai? "Bisa jadi ketika perang zaman dulu terjatuh. Atau  mungkin terkena hujan dan hanyut," terangnya.

Kegemaran mengumpulkan keping-keping uang koin itu berawal ketika dia duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Ketika itu dia aktif di kegiatan kepramukaan.

Ketika itu, dia tengah mengikuti ujian untuk mendapatkan tanda kecakapan khusus (TKK), pemberian tanda bila seorang anggota pramuka menunjukkan kemampuan di bidang tertentu.

Saat itulah dia tahu ada TKK bagi pengumpul uang koin. Membuatnya mengerti bahwa uang koin jenisnya bermacam-macam.

Merangsangnya untuk mengoleksi, termasuk koin kuno.

“Saat itu kan mempelajari. (Ternyata) banyak macam dan jenisnya. Kok bagus ya, pikir saya,” cerita pria yang punya panggilan akrab Jeje ini.

Maka, hobi barunya pun dimulai. Jeje muda mulai berburu bermacam-macam uang koin. Terutama yang kuno.

“Awalnya ngumpulin yang Rp 100, bergambar gunungan wayang. Kemudian Rp 50 bergambar burung kakak tua dan Komodo. Ada juga (koin senile) 50 sen,” ucap alumnus SMKN 1 Kota Kediri ini menjlentrehkan koleksi pertamanya.

Seiring waktu, ketertarikannya pada benda kuno meluas. Tak hanya koin tapi juga pusaka-pusaka, terutama keris.

Ketika masih jadi pelajar di SMK Erwan mulai membeli benda seperti itu. Dari uang yang dia dapatkan dari menjadi instruktur pramuka.

“Saat itu beli keris Naga Kikik. Harganya Rp 50 ribu. Belinya di Pasar Setonobetek,” kenang warga  Lingkungan Centong, Kelurahan Bawang, Kecamatan Pesantren ini.

Tapi, hobi barunya ini mendapat tentangan. Kedua orang tua Erwan tidak suka melihat aktivitas sang anak. Menasihatinya bahwa belum waktunya dia mengoleksi benda-benda semacam itu.

"Dimarahi, katanya gak usah dolanan aneh-aneh," kenangnya terkait larangan orang tua.

Akhirnya dia tidak melanjutkan mengoleksi pusaka. Tapi untuk uang koin, Jeje tetap melanjutkan. Dia juga mencari benda-benda kuno lain.

Khususnya peralatan zaman dahulu, seperti darphana kaca benggala, kapak batu, kapak perunggu, uang kuno, manik - manik kuno, dan barang lawas lainnya.

Pada 2011, bersama kawan-kawannya, dia memutuskan membentuk Pasak. Membuatnya semakin giat dalam berupaya mengumpulkan benda-benda bersejarah. Termasuk kembali mengoleksi pusaka-pusaka. 

Apa alasannya?  “Yang pertama adalah untuk merawat barang-barang bersejarah,” jawabnya.

Dia kemudian menguraikan, dengan menjadi kolektor dia bisa menjaga bend aitu tetap indah dan terjaga.

Selain itu juga untuk mengedukasi masyarakat, utamanya anak muda, agar tahu dan ikut melestarikan.

"Untuk hormat leluhur juga, karena menjaga, juga melestarikan," lanjut laki-laki kelahiran 1987 itu.

Karena itulah, ketika hendak membeli atau mengoleksi, dia harus tahu benda apa itu dan apa fungsinya.  "Karena tujuannya untuk edukasi, kalau gak tahu kan lucu," jelasnya, sembari menyebut bila dia juga rutin melakukan pameran. 

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#Pelestari #radar kediri #uang #budaya #benda bersejarah #benda kuno #kolektor #edukasi #keris #koin #jawa pos