KEDIRI, JP Radar Kediri-Rumah di RT 18 RW 07 Kelurahan Betet, Kecamatan Pesantren itu terasa lengang. Hanya ada beberapa orang yang tengah berbincang di rumah yang menjadi satu dengan rumah makan padang ini.
Tangan mereka menggenggam ponsel. Beberapa kali terlihat melihat alat komunikasi tersebut. Seperti berharap nada deringnya berbunyi.
“Ini menunggu kabar Reyhan,” ucap salah seorang di antara orang-orang tersebut.
Wanita itu bernama Sukarmi. Dia adalah bude dari Muhammad Reyhan Al Fairus. Pemuda yang terseret ombak ketika bermain di pantai Dlodo, satu pantai yang berada di Desa Rejosari, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung.
Hingga tadi malam, tubuh pemuda kelas X SMA Negeri 8 Kediri belum ditemukan. Hal itulah yang membuat seluruh kerabat, termasuk Sukarmi, masih berharap-harap cemas.
“Semua juga masih berada di lokasi. Hanya adiknya yang bungsu yang ikut saya pulang,” terangnya.
Sukarmi adalah kakak dari Sudarsih, ibu Reyhan. Tinggal di sebelah rumah duka tersebut. Ketika mendengar kabar keponakannya hanyut terseret ombak, dia dan suaminya segera menyusul ke lokasi. Namun, kemudian balik Kediri sambil membawa pulang adik bungsu korban.
Peristiwa nahas itu terjadi Selasa sore (17/9). Ketika Reyhan asyik bermain di bibir pantai bersama sang kakak, Hasbi Ahmad Fahrezi.
“Hari itu pas ulang tahunnya Reyhan. Pas tanggal 17 itu, dia minta ke laut. Budal ket subuh (berangkat sejak subuh, Red), sekeluarga,” cerita Sukarmi.
Yang berangkat ke pantai, lima orang, seluruh anggota keluarga. Sang ayah, Ahmad Sari, yang menyopiri. Penumpangnya adalah Sudarsih, Hasbi, Reyhan, dan si bungsu Aditya.
Tujuannya adalah ke Jalur Lintas Selatan (JLS) yang sisi timur. Yang menghubungkan Kabupaten Tulungagung dengan Kabupaten Blitar.
Sekadar jalan-jalan, tidak secara khusus ingin ke pantai. Kebetulan saja pantai itu dekat dengan JLS, akhirnya berhenti dan mampir.
“Sebenarnya tak punya tujuan ke sana (Pantai Dlodo, Red). Cuma mlaku-mlaku.”
Dari cerita Sukarmi, ketahuan bahwa sang ayah, Ahmad Sari, sempat punya feel tak enak.
“Cah-cah wis tak jak balik ae, wis awan. Rumangsaku perjalanan iki kok suwi, gek adoh (anak-anak diajak pulang saja, sudah siang. Perasaanku perjalanan ini lama dan jauh, Red),” ucap Sukarmi, mengulang perkataan adik iparnya saat itu.
Tapi, sebelum pulang, anak-anak mereka minta mampir ke pantai. Maka, dipilihlah yang dekat dengan perjalanan pulang mereka.
Sayangnya, keputusan itu berakhir menjadi bencana. Bermula ketika Reyhan dan Hasbi berjalan-jalan di muara sungai hingga ke bibir pantai. Saat itu sekitar pukul 14.00.
“Nggak mandi sebenarnya. Cuma main-main di pinggirnya. Kan nggak boleh mandi di sana,” sambungnya.
Tapi, malang tak dapat ditolak, ada ombak besar yang datang ke arah mereka. Yang pertama nyaris terseret justru sang kakak. Hasbi berteriak minta tolong.
Mendengar kakaknya minta tolong, Reyhan berusaha membantu. Tapi, justru ketika si kakak sudah bisa ke pinggir, sang adik ganti yang terseret.
Hasbi yang bergeser untuk mencari adiknya tak bisa menemukan. Sudah terseret ombak.
Kejadian itu membekaskan duka mendalam di hati Hasbi. Remaja kelas XII di SMA Negeri 6 ini shock. Tak mau diajak pulang. Memilih menunggu proses pencarian sang adik.
“Hasbi ngomong, wis aku nek kene ngenteni Reyhan (aku di sini saja menunggu Reyhan, Red),” kata Sukarmi, mengulang jawaban keponakannya itu ketika hendak diajak pulang.
Mata wanita ini memerah, seperti menahan tangis, ketika menceritakan hal tersebut. Sesaat kemudian, dia menyeka air mata yang tak terbendung.
Kejadian itu begitu cepat. Saat itu, kedua orang tua Reyhan dan adik bungsu tengah di warung yang ada di dekat pantai. Mereka baru tahu ketika sekumpulan pemancing berlarian mencari bantuan.
“Yang mbarep wis menggeh-menggeh (si sulung sudah terengah-engah, Red) di pinggir laut. Terus ada pemancing di situ dengar tolong-tolong, langsung lari ngabari ada anak tenggelam,” urainya tentang kronologi yang diceritakan ulang oleh si bungsu.
Kini, tinggal hati yang berharap yang tersisa. Meskipun kecil, tapi ada asa agar keponakannya itu bisa ditemukan selamat. Yang menyeruak beriringan dengan kenangannya pada sosok Reyhan yang periang dan ramah.
“Dia kalau sama budenya itu ya meluk, ya nyiumi, grapyak banget. Ulang tahun gitu juga Bude, nanti makan-makan ya,” kenangnya.
Kini, baik keluarga maupun teman terus mengucapkan doa. Termasuk di lingkungan Ponpes Lirboyo yang ikut menggelar doa bersama dan salat ghaib.
“Hari ini tadi (kemarin, Red) juga sudah didoakan di Ponpes Lirboyo. Karena saudara bapaknya ada yang kenal dengan kiai di sana,” tutupnya.
Sementara itu, BPBD Kota Kediri juga terus berkoordinasi dengan Basarnas Trenggalek terkait upaya pencarian itu.
Plt Kalaksa BPBD Kota Kediri Widiantoro mengatakan, pihaknya sejak Selasa malam sudah menyampaikan kabar tersebut kepada perangkat kelurahan setempat.
“Kami diberitahu dan selalu berkoordinasi dengan Basarnas Trenggalek terkait kejadian tersebut,” paparnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah