Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cara Pedagang Wisata Irenggolo Kabupaten Kediri Selamatkan Bumi dari Sampah

Ayu Ismawati • Selasa, 17 September 2024 | 17:34 WIB
SELAMATKAN LINGKUNGAN: Sejumlah ibu-ibu anggota Bank Sampah Paguyuban Sukowono Irenggolo memilah sampah botol dalam pertemuan bank sampah Jumat (13/9).
SELAMATKAN LINGKUNGAN: Sejumlah ibu-ibu anggota Bank Sampah Paguyuban Sukowono Irenggolo memilah sampah botol dalam pertemuan bank sampah Jumat (13/9).

KEDIRI, JP RADAR KEDIRI-Di tengah dinginnya udara Dusun Besuki, Jugo, Kecamatan Mojo, para perempuan paruh baya itu terlihat semringah. Jumat (13/9) pagi itu sedang digelar pertemuan bank sampah.

Sambil menenteng karung-karung berisi botol plastik bekas dan bertumpuk kardus, mereka berjalan menaiki lereng.

Maklum, lokasi bank sampah Paguyuban Sokowono Irenggolo itu berada di lahan yang beberapa belas meter lebih tinggi dari warung-warung tempat mereka berjualan.

Tak ada fasilitas mentereng atau teknologi canggih di sana. Hanya sebuah bangunan semi permanen beratapkan asbes.

Dulunya, bangunan itu difungsikan sebagai warung hingga sanggar campursari.

Kontras dengan fasilitas seadanya itu, asa justru tengah dibangun di sana. Melalui bank sampah, para pedagang itu memulai upaya mengentaskan problem sampah di kawasan wisata Irenggolo.

“Biasanya ya dibakar (sampahnya, Red). Atau kalau ada tukang rosok keliling, dijual,” ujar Suliyah, salah satu anggota Bank Sampah Irenggolo.

Perempuan 55 tahun itu tengah menggendong cucunya sembari membawa sekarung botol plastik. Botol-botol itu dia kumpulkan dari pengunjung wisata yang mampir ke warungnya.

Bagi perempuan yang sehari-hari berjualan di warung itu, adanya bank sampah turut membawa angin segar bagi mereka.

Sebelumnya, hanya segelintir orang saja yang mau memilah dan mengolah sampah. Kini, semakin banyak yang tergerak untuk ikut menyelamatkan bumi lewat cara yang sederhana.

“Dulu kalau ada sampah berserakan, nggak banyak yang telaten ngumpulin. Sekarang yang telaten ngumpulin sampah jadi lebih banyak,” bebernya.

Hal serupa disampaikan Titin. Perempuan yang juga pemilik salah satu warung itu ikut aktif memilah sampah di bank sampah.

Tangannya gesit memisahkan botol plastik dari labelnya dengan bersenjatakan pisau cutter kecil. Sebelumnya, warga Dusun Besuki, Desa Jugo itu memang sudah gemar mengumpulkan sampah.

Termasuk dari wisatawan yang masih kerap membuang sampah sembarangan di kawasan air terjun.

“Kadang saya turun ke sana (ke air terjun Irenggolo, Red) bawa kresek. Ngambilin itu (sampah, Red). Tapi nanti dijualnya ke tukang rosok keliling,” kenangnya.

Diakui Titin, adanya bank sampah memberikan harapan baru bagi mereka. Salah satunya wawasan bahwa sampah plastik bekas kemasan saset pun bisa dimanfaatkan. Tanpa harus selalu berakhir dengan cara dibakar.

“Biasanya yang banyak itu plastik-plastik bekas kopi. Dulu langsung dibakar. Tapi ini mulai dikumpulkan karena katanya bisa dijadikan tikar sama kerajinan lainnya,” akunya.

Upaya membentuk bank sampah di kawasan wisata itu tak selamanya lancar. Butuh komunikasi yang cukup lama untuk bisa meyakinkan masyarakat.

Penyuluh Bank Sampah Endang Pertiwi mengatakan, butuh waktu lebih dari setahun untuk bisa meyakinkan para pelaku usaha itu agar mau mengelola sampah di kawasan wisata tersebut.

“Bahkan sebelumnya itu banyak yang buang sampah di sumber air. Kebanyakan dari pengunjung,” ujarnya menyayangkan pengelolaan sampah yang belum sepenuhnya optimal di kawasan wisata.

Kini, sampah-sampah wisatawan sudah bisa lebih banyak direduksi. Tak sampai seminggu, lebih dari satu kuintal sampah terkumpul.

Baca Juga: Rangkul Puluhan Penderita Gangguan Kejiwaan, Ini yang Dilakukan Desa Sendang, Banyakan, Kabupaten Kediri

Mulai dari botol plastik, kardus, hingga buku bekas. “Yang biasanya dibuang, sekarang bisa dikumpulkan, kan?” sambung perempuan asal Kelurahan Bujel, Mojoroto, Kota Kediri itu.

Saat ini, baru sekitar 13 orang yang aktif menjadi anggota bank sampah di kawasan wisata alam itu. Namun, asa yang timbul dari sebagian kecil masyarakat itu menurutnya sudah bisa memantik semangat warga setempat.

“Sudah banyak yang tanya-tanya lagi, itu gimana caranya ikut bank sampah,” katanya sembari menyebut, Bank Sampah Paguyuban Sokowono Irenggolo bisa dibilang yang pertama ada di kawasan wisata Kabupaten Kediri.

Lukman Setyohadi, ketua bank sampah mengakui jika para pelaku usaha di sana sempat pesimis. “Karena dulu pernah ada, tapi terhenti,” tutur pria 27 tahun itu.

Kepentingan penyelamatan lingkungan itu juga harus dihadapkan dengan kepentingan ekonomi pelakunya. Seluruh anggotanya saat ini adalah para pemilik warung-warung di kawasan wisata Irenggolo. Sudah pasti, mereka lebih banyak disibukkan dengan berdagang.

“Kita biasanya seminggu sekali pertemuannya. Atau kalau sudah terkumpul banyak, baru berkumpul di bank sampah,” urainya sembari menyebut, rata-rata pertemuan hanya bisa dilakukan di hari kerja. Atau, saat kawasan wisata cenderung lebih sepi pengunjung.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #bank sampah #plastik #jawa pos #sampah