KEDIRI, JP Radar Kediri- Di Desa Badal terdapat dua makam yang dianggap sakral. Rencananya, pemdes berencana mengembangkannya menjadi wisata religi.
Tidak hanya agar makam lebih terawat. Harapannya juga agar perekonomian warga berputar.
Berbagai upaya dilakukan oleh Pemdes Badal untuk memajukan desanya. Salah satunya dengan mengembangkan makan yang dinilai sakral.
Yakni pesarean Arya Panular yang pernah menjadi Patih Dhoho. Lalu, Pangeran Demang dan anak-cucunya.
Dulunya, makam tersebut sering dikunjungi peziarah. Bahkan tidak hanya dari dalam kota.
Banyak peziarah dari luar kota yang datang. Namun, seiring waktu berjalan, pengunjungnya makin berkurang.
Hal itu disadari oleh pemdes setempat. Rencananya, pemdes akan merawat dan mengembangkannya menjadi wisata religi.
“Sayang kalau tidak terurus,” ujar Kepala Desa Badal Muhamad Dawamudin.
Sejatinya, masih ada peziarah yang datang. Hanya saja frekuensi dan kuantitasnya semakin berkurang.
Padahal, saat ramai kunjungan, warga setempat bisa merasakan perputaran ekonomi.
Oleh karena itu, pria yang akrab disapa Dawam itu berencana merawat dan menata kawasan tersebut.
Di luar itu, dia juga ingin mengumpulkan cerita sejarah tentang sosok penting tersebut.
Dengan begitu, pihaknya bisa melakukan sosialisasi kepada masyarakat luas.
Tidak hanya itu, pihaknya juga bakal mengembangkan akses menuju makam tersebut.
Pasalnya, akses yang memadai sangat vital untuk menopang sebuah situs wisata tersebut.
“Kalau aksesnya bagus kan peziarah bisa mudah masuknya,” tandas Dawam.
Puluhan Tahun Konsisten Geluti Usaha Pembuatan Opak Gambir
Di Desa Badal terdapat sebuah usaha pembuatan opak gambir. Usaha tersebut dikelola oleh Masito dan keluarganya.
Tak main-main, usahanya ini sudah berumur puluhan tahun. Tercatat, sudah sejak 1993 usaha tersebut berdiri.
“Sampai sekarang masih terus produksi. Karena selain tertarik, saya sendiri juga gemar mengkonsumsinya sendiri,” ujar Masitoh.
Masitoh memproduksinya setiap hari dengan jadwal yang fleksibel. Usahanya tersebut dikerjakan bersama empat karyawan. Dia sengaja mencari pekerja dari warga sekitar.
Opak gambir buatan Masitoh ini memiliki berbagai varian rasa. Seperti cokelat, jahe, strawberry, pandan, durian hingga vanilla. Untuk memasarkan produknya, dia menyerahkan pada kedua anak laki-lakinya.
“Tadinya mau juga melayani online. Hanya saja tenaga yang membuat masih kurang,” bebernya.
Namun begitu dalam waktu sehari dia mampu memproduksi 8 kilogram opak gambir.
Produk buatannya berhasil merambah ke berbagai daerah. Bahkan, luar pulau Jawa.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah