Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Siapa Sosok Ketua KONI Kota Kediri? Ternyata Ini Latar Belakangnya

Emilia Susanti • Kamis, 5 September 2024 | 17:07 WIB
KENYANG PENGALAMAN: Eko Agus Koko mengakrabi Persik sejak puluhan tahun silam. Dia pernah menjadi penjaga penitipan motor hingga korlap Persikmania.
KENYANG PENGALAMAN: Eko Agus Koko mengakrabi Persik sejak puluhan tahun silam. Dia pernah menjadi penjaga penitipan motor hingga korlap Persikmania.

JP Radar Kediri- Nama lengkapnya Eko Agus Koko. Tapi, biasa disapa Koko. Dulunya, dia adalah atlet angkat besi.

Karena itulah dia juga pernah berkecimpung di Persatuan Angkat Besi dan Angkat Berat (PABBSI) di Kota Kediri.

Hingga akhirnya kini terpilih sebagai ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Kediri.

Tapi, tak hanya di angkat besi dia berkecimpung. Sosok ini juga pernah menjadi bagian dari kesuksesan klub sepak bola Persik Kediri.

Di awal kebangkitan klub perserikatan ini, Koko adalah salah satu  koordinator lapangan (korlap) Persikmania-sebutan suporter Persik.

Setiap kali Persik bertanding, Koko akan berada di pinggir lapangan. Menjadi steward sekaligus petugas pengaman.

Kelompok ini juga punya nama yang sudah dinotariskan, Gladiator. Dan, dia adalah sang pendiri.

“Karena dulu untuk yang jaga pintu stadion (portir tiket, Red) sempat dipegang satpol PP, marinir, hingga pihak swasta.

Tetapi karena ada masalah akhirnya diambil oleh warga sipil,” cerita Koko ketika tercetus membentuk petugas pengamanan.

Bila bercerita tentang Persikmania, Koko memiliki andil dalam sejarahnya. Ketua ketuanya dipegang Hendri Ego, dia adalah korlap.

“Dulu ada suporter dari Bendon, dari Dandangan, Ngadisimo, Singonegaran, dari kelurahan-kelurahan lain.

Nah dulu saya koordinator antara suporter-suporter dari setiap kelurahan,” aku pria asli Bendon, Banjaran, Kota Kediri.

Dia pun bercerita bahwa dirinya menjadi koordinator lapangan pada 1990-an akhir. Ketika Stadion Brawijaya belum mengalami renovasi. Belum ada rumah toko (ruko) seperti saat ini.

Selain menjadi koordinator lapangan, dirinya dulu juga sempat mengomando parkir di lingkungan stadion. “Itu bukan parkir. Saya pernah diprotes karena parkir liar.

Tetapi saya bilang ini bukan parkir, tetapi penitipan. Karena ini kalau hilang kami tanggung jawab,” kenang Koko.

Pengalaman ini tentu menyisakan cerita tersendiri. Dirinya dan teman-temannya seringkali mengganti kerugian atas hilangnya barang. Yang paling sering adalah helm.

“Dulu ada motor hilang ya diganti. Tetapi itu untungnya pas teman saya,” kata Koko.

Menurutnya, situasi stadion yang dulu dan sekarang sudah jauh berbeda. Begitupun dengan parkir.

Jika dulu tempat parkir boleh di sekeliling stadion, kini sudah dilarang. Pasalnya, ada aturan yang mengharuskan tempat parkir berjarak 50 meter dari stadion.

Meski begitu, itu tak berpengaruh baginya. Karena dirinya tidak lagi terlibat dalam urusan parkir.

“Sekarang ya jadi Gladiator itu,” tandasnya. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #kediri #ketua koni #latar belakang #jawa pos #features