JP RADAR KEDIRI-Piala-piala berjajar di meja kamar Jesselyn Michelle Setiobudi. Di salah satunya, yang ukurannya paling besar, belasan medali dikalungkan. Mulai dari medali perunggu, perak, dan emas.
Piala dan medali itu merupakan bukti prestasi gadis 14 tahun ini di bidang matematika. Yang dia peroleh dari keikutsertaannya pada berbagai olimpiade matematika. Baik itu yang levelnya nasional ataupun internasional.
“Totalnya ada 22 medali,” ucap Jesselyn, menyebut jumlah medali yang dia dapat selama ini.
Bagi alumnus SDK Petra Kediri ini, mata pelajaran yang sering jadi momok bagi teman-temannya ini justru disuka. Kesukaan itu dia rasakan sejak duduk di bangku sekolah dasar.
“Suka matematika karena menantang. Suka sesuatu yang mengasah pikiran dan logika,” aku siswa kelas X SMA di Bina Bangsa School Malang.
Kemampuan lebihnya di matematika sudah terlihat sejak itu. Memang, hingga kelas 8 SMP Jesselyn selalu rangking 1. Tapi, tetap saja, nilai yang paling menonjol adalah matematikanya. Selalu di atas rata-rata. Tidak jarang mendapat nilai sempurna.
Perkenalannya dengan olimpiade matematika terjadi saat kelas . “Karena nilai bagus terus, disuruh ikut ekstrakurikuler. Untuk mendalami matematika," terang gadis asal Banjaran, Kota Kediri ini.
Olimpade pertama yang dia ikuti berlangsung pada 2023. Tempatnya di Kota Malang. Merupakan olimpiade matematika tingkat provinsi. Sayangnya Jesselyn pulang dengan kekecewaan. Gagal meraih medali dan hanya sampai final.
Tapi, itu tak membuatnya menyerah. Anak pasangan Yimmy Stephanoes dan Afriana Tanri Sudarno itu justru semakin terpacu. Belajar dan terus belajar. Agar kemampuannya lebih baik.
Hingga akhirnya ada International Mathematical Kangaroo Contest (IKMC) 2023. Ajang ini adalah kompetisi matematika internasional di Malaysia. Berlangsung secara online.
"Coba-coba saja, hitung-hitung untuk menambah pengalaman," ucapnya menyebut motivasinya ikut saat itu.
Karena niatnya coba-coba, dia tak terbebani target menang. Hanya ingin menambah pengalaman sekaligus mengasah kemampuan. Tapi, siapa sangka ternyata justru itu yang membuatnya lebih tenang dan lancar mengerjakan soal. Hasilnya, gold medal berhasil dia dapatkan.
“Jadinya kian bersemangat. Karena bisa dapat juara di olimpiade tingkat internasional,” akunya bangga.
Pengalaman yang paling berkesan adalah ketika dia mengikuti Southeast Asian Mathematical Olympiad (SEAMO) X 2024 di Singapura. Ini adalah olimpade internasional offline pertama yang dia ikuti. Yang membuatnya bertemu langsung dengan lawan-lawan dari berbagai negara.
Jesselyn sempat minder dan gugup. Merasa lawannya lebih berpengalaman. “Hitungannya mereka sering ikut. Sementara aku baru-baru ini,” aku gadis yang bercita-cita menjadi pengusaha dan programmer ini.
Hal itulah yang meninggalkan kekecewaan baginya. Memang, dia tetap meraih medali perunggu. Tapi, dia merasa seharusnya bisa lebih baik lagi.
Terlepas dari itu, sudah puluhan olimpiade kelas nasional maupun internasional yang dia ikuti dan menangkan. Di antaranya Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) 2023 yang meraih gold, Singapore Math Challenge (SMC) 2023 yang juga dapat gold, Big Bay Bei (BBB) 2023 dia mendapatkan silver. Kemudian ada American Mathematics Olympiad (AMO) 2023, dia juga mendapat silver.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah