KEDIRI, JP Radar Kediri- Desa Segaran terkenal akan pertumbuhan pelaku UMKM. Salah satunya usaha pengolahan dodol yang terbuat dari salak. Produk ini menjadi salah satu unggulan desa.
Usaha tersebut dikelola oleh Dwi Sunu Utami. Dia banyak mengolah salak menjadi produk unggulan. Seperti dodol, sari minuman, hingga bubuk kopi.
Bahan baku dodol tersebut adalah ampas salak. Sedangkan biji salaknya diolah menjadi bubuk kopi. “Jadi semua bagian dari salak ini dapat dimanfaatkan,” terang Sunu.
Pengolahan salak tersebut dilakukan sesuai prosedur dan metode yang telah dikembangkan. “Ilmu itu saya peroleh dari Profesor Wahono ketika saya mengikuti pelatihan,” ujar istri Pudya Wasana tersebut.
Untuk pengemasan, dodol yang telah selesai dimasak di tunggu hingga dingin. Biasanya ibu dari dua anak ini baru mengemas dodol di hari berikutnya.
Untuk pembuatan olahan buah salak umumnya dilakukan tiap hari Minggu. Namun jika mendekati hari raya dan tahun baru bisa lebih sering lagi.
“Dodol ini mampu bertahan hingga 1,5 bulan tanpa pendingin,” ucapnya. Usahanya tersebut tidak langsung sukses seperti sekarang.
Banyak tantangan dilalui. Seperti produk yang sulit laku saat awal-awal memulai bisnis. Namun ketekunannya membuahkan hasil manis.
Seiring waktu berjalan produknya banyak diminati pelanggan. Kini dia sudah mampu menyediakan stok olahan salak ke lima toko dan mampu mempekerjakan empat warga sekitar.
Kades Segaran Dwija Kristiyanta Miliki Darah Petani dalam Tubuhnya
Hari-harinya banyak disibukkan dengan kegiatan desa. Maklum, jabatannya sangat sentral. Namun begitu, Dwija Kristiyanta tak lantas meninggalkan hobinya. Yaitu bercocok tanam.
Sejak kecil dia sudah terbiasa bergelut dengan terik matahari. Maklum, orang tuanya merupakan petani tulen. “Dulu ketika Bapak ke sawah saya sering diajak,” ujarnya.
Sejak pertama mengenal dunia pertanian, Bapaknya lah yang menjadi guru. Dulu, dia hanya menggarap sawah milik pribadi.
Namun, setelah menjadi kades dia juga mengelola sawah bengkok desa. “Ya saya juga memanfaatkan bengkok desa untuk bertani,” urai suami Eli Wijaya itu.
Pria kelahiran 1974 itu menikmati betul perannya sebagai petani. Pasalnya, hingga kini dia masih menekuni kegiatan tersebut.
“Menanam tebu itu tidak dilakukan terus menerus. Setiap tiga atau empat kali panenan harus di ganti tanaman lain. Kalau saya menanam ketela,” terangnya.
Sebagai petani, kebijakan yang dibuat juga banyak yang berhubungan dengan pertanian. Seperti membangun fasilitas penunjang di kawasan persawahan. Itu dilakukan sebagai bukti keberpihakannya pada para petani.
Tidak hanya di sawah. Dia juga menjalani hobi bercocok tanam di rumah. Terbukti halaman rumahnya banyak tanaman hias dan buah-buahan. Seperti nanas madu hingga kelengkeng.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah