Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cerita Rifai, Mahasiswa yang Terluka saat Demonstrasi di Kantor DPRD Kota Kediri

Novanda Nirwana • Kamis, 29 Agustus 2024 | 16:55 WIB
TURUN KE JALAN: Rifai, mahasiswa IAIN Kediri melakukan demo Desember lalu. Dalam aksi Jumat (23/8) lalu dia menderita luka-luka terkena pentungan petugas.
TURUN KE JALAN: Rifai, mahasiswa IAIN Kediri melakukan demo Desember lalu. Dalam aksi Jumat (23/8) lalu dia menderita luka-luka terkena pentungan petugas.

JP Radar Kediri-Jumat (23/8), Wicaksono Rifai bersama ratusan rekannya sesama mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri menuju Taman Brantas.

Mengenakan jaket hoodie warna hitam, dia berkendara menuju ruang terbuka hijau di tepi Sungai Brantas itu.

Kemudian, setelah memarkir kendaraannya di tempat parkir, dia pun menuju ke kerumunan massa yang telah menunggu.

Mereka adalah mahasiswa yang hendak berunjuk rasa ke kantor DPRD Kota Kediri. Menyuarakan penentangannya pada sikap pemerintah dan anggota DPR RI yang hendak mengeluarkan RUU yang bertentangan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi.

Dari taman tersebut, para mahasiswa long march menuju tempat para wakil rakyat berkantor di Jalan Mayor Bismo. Jaraknya sekitar dua kilometer.

“Dari PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Red) sekitar 150 orang, kami berangkat bersama-sama menuju ke DPRD,” kata Rifai.

Saat itu Rifai ada di barisan paling depan. Demikian pula ketika sampai di depan kantor DPRD, mahasiswa jurusan pendidikan agama Islam ini juga berada di muka. Berhadap-hadapan dengan petugas keamanan yang sudah bersiaga.

Tak jelas apa penyebabnya, suasana tiba-tiba ricuh. Antara massa aksi dan aparat keamanan terlibat bentrok.

“Mungkin gara-gara emosi terus massa melempar sampah, botol, pasir juga, ke polisi,” duga ketua Komisariat PMII Sunan Ampel ini.

Sebenarnya, setiap kali aksi demo, juga kerap ada senggolan yang berujung ricuh. Tapi, sore itu Rifai merasakan pengalaman yang tidak akan dia lupakan.

Karena tingkat ricuhnya relatif besar bahkan menjurus brutal. Sampai-sampai dia mendapat pukulan dari oknum aparat.

Rifai ingat, ketika itu sekitar pukul 17.30. Sebenarnya, ratusan massa mulai tenang di luar kantor DPRD.

Entah mengapa, tiba-tiba aparat yang bertugas mengamankan aksi demo melakukan upaya represif.

Tak ayal, dia yang berada di barisan depan merasakan dampak yang paling besar. Langsung terkena pukulan polisi.

“Massa sudah tenang pada waktu itu. Tapi tiba-tiba polisi keluar dari Kantor DPRD langsung melakukan pemukulan dan pengejaran,” ungkapnya, mengingat kejadian saat itu.

Dia pun tak sempat lari menghindar. Seorang polisi melayangkan pukulan dengan pentungan. Tepat mengenai kepala bagian kiri.

“Saya langsung kliyengan (terhuyung, Red),” ucapnya.

Mendapat pukulan, Rifai berusaha mundur. Berusaha mengamankan diri. Dia berlari menjauh sembari mengusap kepalanya yang terasa  nyeri.

Betapa kagetnya ketika telapak tangannya terasa basah serta darah mengalir di pelipis.

“Saya langsung cari pertolongan ke (kantor) PMI,” cerita mahasiswa semester sembilan ini.

Setelah mendapat pertolongan pertama, ia bersama teman-temannya balik ke basecamp PMII yang letaknya tak jauh dari kampus.

Pada saat itu ia tak merasakan sakit di kepalanya. Namun teman-temannya menyuruh untuk mengecek ke rumah sakit.

Hingga keesokan harinya ia ke Rumah Sakit Gambiran. Setelah dicek oleh dokter, ada luka selebar dua sentimeter di kepalanya. Untungnya, tak harus di operasi karena sudah mengering.

“Harusnya mendapat lima jahitan. Cuman kata dokternya lukanya udah kering jadi cuman dikasih obat jalan sama salep,” bebernya.

Setelah aksi tersebut, Rifai mengaku tidak kapok berdemo kembali. Menurutnya demo adalah sebuah kesadaran diri. Ketika pemerintah melakukan satu putusan yang tidak menguntungkan rakyat.

“Harus mengusut tuntas mengenai tindak represif dan pengawalan mengenai pemerintahan,” jelas Rifai.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #iain kediri #demonstrasi #kantor DPRD #demo #jawa pos