JP Radar Kediri-Jarum jam dinding di ruang Rehabilitas Sosial di Dinas Sosial Kota Kediri sudah menunjukkan pukul 13.00.
Kesibukan masih terasa. Aktivitas kerja juga terlihat. Ditunjukkan oleh enam orang staf yang ada di meja kerja masing-masing.
Keenam orang, yang kebanyakan berkaos merah itu, asyik dengan laporan yang ada di mejanya. Membalik lembar demi lembar. Kemudian, diselingi sedikit canda di antara mereka.
“Maaf menunggu, tadi dari barak, laporan,” ucap salah seorang di antaranya, ketika menyambut Jawa Pos Radar Kediri.
Lelaki itu adalah Suwarno. Sebagai staf bagian rehabilitas sosial, dia punya tugas yang spesial. Yaitu menangani orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
“Bulan lalu habis mengurus An (nama seorang ODGJ, Red) ke Rumah Sakit Jiwa Lawang di Malang. Kan perlu surat rujukan dulu,” sambungnya.
Ketika menceritakan itu, pria ini juga merapikan berkas-berkas di mejanya. Yang salah satunya merupakan dokumen milik An.
Lelaki yang beralamat di Kelurahan Gayam, Kecamatan Mojoroto ini bukan orang baru yang bergelut dengan ODGJ.
Sudah 13 tahun lamanya menekuni hal tersebut. Membuatnya memiliki banyak pengalaman. Baik senang maupun yang menjengkelkan.
“Dulu, awal-awal (bekerja) ya nggak tahu ilmunya. Saya jadi sering berantem dengan ODGJ. Lambat-laun saya pelajari ilmunya (menangani ODGJ, Red),” terangnya.
Memang, bila mendengarkan cerita Suwarno, tidak sembarang orang bisa menangani ODGJ. Harus memiliki keahlian khusus. Terutama memahami jiwa keinginan si orang gila tersebut.
Pria berkumis ini mengungkapkan, ketika ia menjalani tugas in, banyak sekali suka duka yang ia dapatkan. Baginya, itu sudah tugas yang harus dijalankan dengan baik.
“Memang risiko kerjaan. Jadi kalau ada telepon malam jam berapapun itu saya langsung berangkat. Istilahnya pengamanan,” jelasnya.
Lalu, apa ilmu yang dipelajari Suwarno untuk menaklukkan sang ODGJ, terutama yang mengamuk? Sambil tertawa, pria yang saat itu mengenakan kaus putih tersebut menyebut tentang ilmu Jawa. Terutama tentang filosofi yang memang dimiliki para leluhur.
Untuk itu, setiap kali mengawali upaya mengatasi ODGJ yang mengamuk, Suwarno selalu berdoa lebih dulu. Kemudian meminta izin atau ‘bantuan’ leluhur si ODGJ yang akan diamankan.
“Istilahnya ada sedulur papat (saudara yang empat, Red). Jiwane, nafsune kuwi diluluhne. Ben mudun ora ngamuk (jiwanya, nafsunya diluruhkan dulu. Biar turun dan tidak mengamuk, Red),” urainya.
Lelaki yang sebelumnya bertugas di dinas pendapatan daerah (dispenda) ini menyebut, perlu kesabaran dan ketenangan dalam pekerjaannya. Agar berhasil mengamankan ODGJ mengamuk, dia juga harus tahu kesenangan orang itu.
“Awal-awal saya ngikutin alurnya mereka berbicara. Terus lama-lama dikasih tahu itu pasti mau,” jelasnya, menceritakan trik-trik khusus yang dia terapkan selama ini.
Toh, berbagai pengalaman buruk sudah dia dapat. Seperti diludahi dan dipukul menjadi makanan sehari-harinya. Namun ia tak pernah mengeluh. Melainkan ia tetap bersyukur. Lantaran ia masih berguna untuk orang lain.
“Walaupun tidak bisa membantu harta benda, minimal bisa membuat orang lain senang atau sembuh itu ya kita bersyukur,” jelasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah