KEDIRI, JP Radar Kediri- Selama ini, masyarakat telah mengenal tata cara merawat jenazah. Mulai dari memandikan, mengafani, hingga memakamkannya. Umumnya, itu dilakukan dengan pendekatan agama dan budaya.
Namun belum banyak yang menggunakan pendekatan kesehatan. Pasalnya, penanganan sesuai prosedur kesehatan memiliki beberapa perbedaan.
Terutama dari alat dan perlengkapan yang digunakan. Oleh karena itu, Pemdes Batuaji memberikan pelatihan pemulasaraan jenazah kepada warganya.
Awalnya, memang tidak mudah. Pasalnya, tata cara yang digunakan warga sudah berjalan secara turun-temurun. Dari waktu yang sangat lama.
Tentu untuk menyempurnakannya perlu waktu dan adaptasi. Termasuk alat yang digunakan biasanya hanya seadanya.
“Jika sesuai dengan program, untuk pemulasaraan jenazah memerlukan bermacam alat,” ujar Kepala Desa Batuaji Makin Wahyudi.
Alat yang dianjurkan untuk memandikan jenazah saja relatif banyak. Antara lain sarung tangan karet, jas hujan sekali pakai, masker penutup mulut dan satu tempat tidur.
“Kami belum memeliki tempat tidurnya, karena menunggu dana anggaran tahun depan,” ungkapnya. Praktis, ini menjadi kendala tersendiri.
Sosialisasi terus dilakukan setiap ada kegiatan warga. Salah satunya saat pengajian rutin. “Saya berharap mereka menyadari pentingnya program ini,” harapnya.
Dari segi kesehatan, prosedur yang dikenalkan ini lebih baik. Petugas tidak terkena kotoran dari jenazah. Praktis, dari faktor kesehatan jadi lebih terjaga.
Puluhan Tahun Pertahankan Pembuatan Tempe Tradisional
Di Desa Batuaji juga terdapat beberapa perajin tempe. Bahkan, ada yang masih mempertahankan gaya tradisional.
Salah satu produsen sekaligus penjual tempe yang masih bertahan adalah Masipah. Menurutnya, usaha pembuatan tempe di sana sudah ada sejak 1960-an.
Masipah bercerita bahwa tempe buatannya tersebut dibuat dengan cara tradisional. Dengan menggunakan teknik tersebut, cita rasa tempenya masih terjaga.
Karena itu, dia berani menjual tempe buatannya dengan harga lebih tinggi dari lainnya. “Saya masih menggunakan cara tradisional,” ujarnya.
Selain cara pembuatan yang tetap mempertahankan gaya lama. Dia juga menjajakan tempe buatannya dengan berkeliling.
Tidak dengan kendaraan atau sepeda. Masipah lebih memilih berjalan kaku dengan tempe ditaruh di bakul.
Tidak hanya berjualan di sekitar Desa Batuaji. Masipah terbiasa menjajakan dagangannya hingga Pasar Cangkring, Ponggok, Blitar.
“Ada juga warga kami yang produksi tempe dengan cara yang modern,” tandas Kepala Desa Batuaji Makin Wahyudi.
Makin mengaku keberadaan pembuat tempe tradisional tersebut sudah semakin langka. “Dulunya banyak tapi ada beberapa yang sudah meninggal,” ungkapnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah