KEDIRI, JP Radar Kediri- Desa Wonokerto dikenal sebagai salah satu produsen tempe berkualitas. Tidak hanya satu-dua perajin saja. Jumlahnya mencapai puluhan warga.
“Di desa ini banyak warganya yang masih memproduksi tempe,” terang Kepala Desa Wonokerto Jimi Santoso.
Berkaca dari hal itu pemerintah desa akhirnya mendirikan Bumdes. Salah satu fungsinya untuk mencukupi kebutuhan kedelai para perajin tempe. Dengan begitu mereka tidak kesulitan mendapatkan bahan baku.
Perajin tempe di Desa Wonokerto yang masih eksis yaitu Muningsih. Dia dan keluarganya sudah bertahun-tahun menjalani usaha tersebut.
Dari dulu hingga sekarang mereka tetap mengutamakan kualitas. Salah satunya dengan mempertahankan daun pisang sebagai pembungkusnya.
“Kebetulan ibu saya memang masih tetap membungkus dengan daun pisang. Dari cita rasanya memang lebih banyak diminati pembeli soalnya,” terang perempuan kelahiran 1977 tersebut.
Banyak orang meyakini bahwa tempe tersebut memiliki rasa gurih yang khas. Tidak seperti tempe kebanyakan yang dibungkus dengan plastik. Oleh karena itu, kualitas rasa tersebut berusaha dipertahankan keluarganya.
Dalam setiap harinya, perajin tempe di sana bisa menghabiskan kedelai 10–75 kilogram (kg). Muningsih sendiri menghabiskan kedelai antara 10–20 kg per hari.
Setiap 1 kg kedelai bisa dijadikan tempe sebanyak 30 biji ukuran kecil. Sementara keuntungannya sendiri sekitar Rp 4–5 ribu per kg.
Penjualannya sendiri dilakukan dengan dua cara. Yaitu dijual di pasar dan berkeliling dari rumah ke rumah. Seperti yang dilakukan Dwi Lailina, adik iparnya Muningsih. Bahkan menurut Dwi, dengan berkeliling lebih cepat laku dagangannya.
Pemdes Ajak Masyarakat Tanam Pisang Cavendish
Tak hanya perhatian dengan home industry. Pemdes Wonokerto juga memaksimalkan potensi lain di desanya.
Salah satunya dengan mendorong sektor perkebunan lebih maju. Hal ini diwujudkan dengan menanam pisang cavendish.
Menurut Kepala Desa Wonokerto Jimi Santoso, kebijakan itu diputuskan bersama. Pasalnya, sebelum eksekusi dia mengajak musyawarah warga. Hingga akhirnya disepakati penanaman pohon pisang cavendish.
Menurut warga, pisang adalah pohon yang mudah ditanam. Selain itu perawatannya juga tidak terlalu sulit.
"Akhirnya, saya bersama perangkat desa memutuskan untuk membeli 500 buah bibit pisang jenis cavendish," terang Jimi.
Bibit tersebut dibeli dari pihak kecamatan dengan menggelontorkan dana desa sekitar Rp 8 juta. Ratusan bibit pisang tersebut kemudian ditanam secara gotong-royong oleh warga.
Selain mudah perawatannya, harga jualnya juga relatif tinggi. Pisang cavendish banyak diminati di pasaran karena rasanya yang enak. "Nantinya, buah dari pohon pisang ini akan dimiliki oleh warga yang menanamnya," tandas Jimi.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah