JP Radar Kediri- Akhir-akhir ini Desa Susuhbango viral. Mereka menjadi buah bibir di media sosial. Bukan karena berita yang tidak menyenangkan.
Namun karena mereka memiliki taman yang baru. Taman tersebut diberi nama Taman Pinka alias Taman Pinggir Kali.
“Taman ini terinspirasi dari jalan yang berada di Malioboro,” jelas Kades Susuhbango Siswanto. Sebenarnya desa ini tidak memiliki potensi di bidang pariwisata. Pun desanya tidak begitu luas. Hanya sekitar 222 hektare. Itu juga terbagi antara pemukiman, persawahan, dan kebun. “Desa ini sebenarnya tidak punya potensi di bidang pariwisata. Bahkan untuk membuat taman desa ini tidak memiliki lahan,” ujar laki-laki berusia 46 tahun tersebut.
“Lalu saya berinisiatif membuat trotoar diatas sungai, pembangunan ini saya rintis mulai tahun 2021,” lanjut Siswanto.
Saluran air tersebut berada di Dusun Susuhbango Utara. Pengegecoran ini dilakukan di atas saluran air. Setelah pengecoran selesai, kemudian pada 2024 ini dilanjutkan finishing.
Mulai dari melengkapi sarana. Pertama dengan memberikan bangku dan lampu taman. Karena konsepnya meniru yang berada di Malioboro maka dibuat sama persis.
“Hanya dipasang kursi saja, sudah dapat menarik minat warga untuk bersantai,” ungkap Siswanto. Dalam mempercantik trotoar, Siswanto memiliki ide tambahan.
Dia menyadari bahwa pemandangan sunsetnya bagus. Kemudian dia menyewa sawah di sebelahnya untuk ditanami padi.
Di antara petak padi tesebut diberi gazebo dan lampu gantung. Bertambahnya fasilitas membuat pengunjung semakin banyak. Terutama saat sore hari.
Saat ini Taman Pinka sudah dilengkapi dengan spot kuliner, panggung, dan toilet.
Pemdes Dorong Program Jambanisasi untuk Masyarakat Kurang Mampu
Berbagai inovasi dilakukan Pemdes Susuhbango. Salah satunya dengan menggencarkan program jambanisasi.
“Sasarannya ini untuk warga yang masih belum memiliki jamban, warga kurang kelas menengah ke bawah dan memiliki balita,” kata Kades Susuhbango Siswanto.
Dia mengatakan bahwa program jambanisasi ini mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat. Dengan adanya bantuan jamban, mereka tidak perlu lagi buang hajat di sungai. Mengingat membuang hajat di sungai tidak sehat.
“Membuang air besar sembarangan ini dapat berdampak pada kesehatan,” terang Siswanto. Laki-laki yang baru menjabat satu periode ini mengatakan ada sekitar 50 unit jamban yang dibangun.
Pembangunan dimulai pada bulan Juli kemarin. “Tahun ini selesai untuk progam jamabinsasinya,” kata Siswanto. Seperti yang diketahui bahwa jambanisasai ini merupakan program dari Pemkab Kediri.
Dengan adanya program tersebut, diharapkan setiap rumah memiliki jamban yang layak. Selain untuk kesehatan, juga untuk keselamatan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah