JP Radar Kediri- Pemdes Banaran mendukung penuh geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang ada di sana. Salah satunya kerajinan barongan yang digeluti oleh Yogi Sandai Tridianto. Berawal dari ikut pameran lokal, kini barong yang dibuatnya telah dipesan hingga luar Jawa.
Yogi memang kerap mengikuti ajang pameran. Dimulai saat 2014 silam saat dia mengikuti pameran dan ada yang tertarik. “Ikut pameran itu membantu untuk mendapat jaringan. Terus saya lanjutkan dan mulai menekuni pada 2015 hingga sekarang,” papar pria yang dulu berjualan pentol keliling ini.
Yogi mengaku, barongan yang dibuatnya rata-rata berjenis Kedirian. Tak sedikit pula dia membuat barongan standar yang harganya lebih rendah. Pemesannya selain orang sekitar Kediri juga banyak dari Pulau Kalimantan dan Papua. “Dulu pernah ada yang pesan dari Malaysia,” ungkapnya.
Tak hanya produksi barong yang sudah jadi. Pembeli juga bisa memesan barong setengah jadi. Tentu harganya lebih terjangkau. Untuk barong setengah jadi dan belum di cat ada dikisaran Rp 1-1,6 juta. Sementara yang sudah jadi mulai dari 2–4 juta. Tergantung motif, tingkat kerumitan, dan ukuran. Selain dijual langsung, Yogi juga membuka lapak di akun media sosial Facebook.
Kompak Jaga Kerukunan, Warga Hidup Berdampingan
Kerukunan umat beragama di Desa Banaran tak perlu diragukan lagi. Toleransi di sana sangat tinggi. Terutama di Dusun Putuk yang terdapat ratusan umat Hindu. Meski berbeda keyakinan, masyarakat di sana hidup dalam damai. Tanpa adanya perpecahan.
Kebersamaan itulah yang terus dipupuk hingga sekarang. Pemdes bersama warga kompak menjaga kebhinekaan tersebut. Mereka sadar, perbedaan bukan untuk dipermasalahkan. Justru semakin memperkaya hubungan bermasyarakat.
Warga Hindu di sana terjamin dalam melaksanakan ritual ibadahnya. Seperti saat upacara Melasti yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Upacara tersebut dilangsungkan di Sumber Windu. Pasalnya, di sana diyakini terdapat tirta amerta atau sumber air kehidupan.
“Masyakarakat Hindu Desa Banaran melakukan upacara ini sebagai simbol membuang karma buruk,” tukas Mangku Evendi, pemuka agama Hindu di Desa Banaran.
Setiap arak-arakan berlangsung, tidak pernah terjadi masalah atau gesekan. Sedikitnya 100 umat Hindu bisa melaksanakan ritual keagamaan tersebut dengan tenang dan nyaman.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah