Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Banggle, Ngadiluwih, Kabupaten Kediri: Ingin Hapus Kesan Negatif Kelompok Kesenian Jaranan

Habibaham Anisa Muktiara • Rabu, 7 Agustus 2024 | 17:05 WIB
Photo
Photo

JP Radar Kediri- Banyak pihak yang melihat kelompok kesenian jaranan dengan sebelah mata. Salah satunya karena para pemainnya terbiasa minum alkohol saat pentas. Namun, ini sangat dihindari oleh kelompok jaranan SKB 7717 Satrio Kudho Bhirowo.

Grup jaranan ini didirikan oleh Hendrika Arisandi. Dia membuat kelompok tersebut karena kecintaannya akan budaya Jawa. Terlebih, kakek buyutnya juga memiliki grup serupa di Malang. Tak ayal, kesenian ini seakan sudah mandarah daging.

“Lalu saya waktu di Kediri membuka grup jaranan ini. Untuk memulainya memang membutuhkan adaptasi,” ujarnya.

Tetapi, Hendrika ingin menghilangkan citra buruk kesenian ini di mata masyarakat. Tanpa menghilangkan seninya. Melainkan penggunaan minuman keras yang ditinggalkan. Terlebih dia merupakan seorang dokter.

Bahkan, kelompok jaranan ini berdampak positif bagi anggotanya. Seperti anak-anak yang semula malas sekolah, kini menjadi semangat sekolah. Dan untuk mereka yang bekerja jadi semakin giat.

Telah berjalan selama tujuh tahun, kini anggotanya ada puluhan. Mulai dari pelajar hingga pekerja. Dengan anggotanya yang beragam, membuat kelompok kesenian jaranan ini semakin berkembang. “Usianya mulai 12 hingga 58 tahun,” kata laki-laki berusia 34 tahun tersebut.

Kelompok jaranan ini terbagi menjadi dua bagian. Yaitu untuk event formal dan satunya untuk kegiatan hajatan. Karena dibagi dua bagian, jadwal latihannya juga berbeda.

Dengan adanya kesenian jaranan tersebut pemerintah Desa Bangle, Kecamatan Ngadiluwih sangat memberikan apresiasi. Selain menjadi penesehat, pemdes selalu melibat kelompok kesenian jaranan ini saat ada kegiatan. 

Usaha Berambang Gorengnya Mampu Menyerap Tenaga Kerja

Mencari rumah Poniyem di Dusun/Desa Banggle tidak terlalu susah. Pasalnya, dari kejauhan sudah tercium aroma bawang merah goreng. “Saya produksi sudah ada 30 tahunan,” cerita Poniyem.

Setiap hari, Poniyem dibantu oleh lima orang karyawannya yang merupakan warga setempat. Meski belum begitu banyak namun usahanya tersebut mampu menyerap tenaga kerja sekitar. Alhasil, angka pengangguran turut berkurang.

Pemasaran produknya dititiipkan di toko oleh-oleh atau pracangan yang terletak di Pasar Bandar, Kota Kediri. Selain itu, produknya juga sudah dipasarkan di Surabaya dan Jakarta melalui pemborong yang bekerja sama dengan Poniyem. Kendala yang kerap dialami adalah saat bawang merah mengalami kelangkaan pasokan. Sehingga harganya menjadi mahal.

“Ya saya menjualnya sesuai dengan kondisinya bawang merah. Kalau harganya naik, harga jual bawang goreng saya juga naik,” tuturnya. Sementara itu, pemdes kerap menawarkan produk-produk unggulan tersebut kepada tamu. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #kabupaten kediri #desa milenial #ngadiluwih #jaranan #jawa pos