JP Radar Kediri- Dulunya, Bumdes Jaya Makmur mengembangkan lini bisnis simpan pinjam. Sayangnya, usaha tersebut kurang berjalan maksimal. Alhasil, mereka membanting kemudi. Hingga akhirnya tercetus untuk mengembangkan usaha digital printing.
Ternyata, lini usaha baru tersebut mampu mendulang pendapatan asli desa (PAD). Sebanyak 30 persen pendapatannya menjadi pemasukan desa. “Bumdes ini dibentuk 2016 lalu. Alhamdulillah sekarang mulai berjalan dengan usaha digital printing,” ujar Ketua Bumdes Jaya Makmur Ahmad Rizal Aprefi.
Pria yang akrab disapa Rizal ini mengaku ada beberapa alasan menggeluti lini bisnis tersebut. Salah satunya karena usaha digital printing ini belum banyak pesaingnya. Terlebih dalam tataran bumdes. “Untuk saat ini kan belum ada bumdes yang memiliki usaha di bidang digital printing,” ucapnya.
Terbukti, inovasi tersebut mampu menjadi ladang penghasil cuan. Antara lain pesanan sablon, banner, dan umbul-umbul. “Alhamdulillah kemarin ketika ada pemilu lumayan pendapatannya,” kata pria 32 tahun tersebut.
Untuk membuka usaha tersebut, bumdes tidak banyak melakukan persiapan. Karena sebelumnya mereka sudah memiliki gedung. Sehingga hanya perlu mempersiapkan peralatan.
“Untuk penghasilan memang masih belum stabil. Tetapi tahun kemarin pendapatan bersih mencapai Rp 57 juta saat musim pemilu,” ungkap Rizal.
Tidak hanya mampu menyumbang pemasukan bagi desa. Lini usaha ini juga dapat menyerap tenaga kerja. Setidaknya ada empat orang yang kini bekerja di sana.
Sulap Limbah Batok Kelapa Jadi Produk Kerajinan Tangan
Di tangan M. Cholil, limbah batok kelapa mampu disulap menjadi produk bernilai seni. Dia mengkreasikan limbah tersebut menjadi centong, mangkuk, hingga celengan berbentuk hewan.
“Bentuk hewannya seperti gajah, bebek, dan kambing,” ujar kakek 64 tahun tersebut.
Dia konsisten dengan usahanya tersebut. Salah satunya karena prospek ekonomi yang didapatkan. Dengan kegigihannya tersebut dia bisa mempekerjakan lima orang karyawan. Mereka rata-rata remaja di sekitar yang putus sekolah sewaktu SMA.
“Saya anggap mereka bukan karyawan. Tetapi di sini belajar. Saya berharap nanti mereka bisa membuka usaha sendiri,” ucap Cholil. Potensi UMKM Desa Grogol ini memang perlu mendapat perhatian khusus. Terutama dalam edukasi minat remaja untuk berwirausaha.
Dalam seminggu, Cholil bisa membuat 500 biji kerajinan dari batok kelapa tersebut. Dalam satu bulan, omzetnya bisa mencapai Rp 10 juta. Penjualannya sudah merambah ke berbagai daerah. Seperti Blitar, Malang, Jombang dan Batu.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah