JP Radar Kediri - Pemdes Perwodadi memiliki perhatian khusus terhadap pengembangan usaha di desanya. Banyak pelaku UMKM yang diberi bantuan modal hingga pelatihan. Terutama dalam hal pemasaran produk.
Salah satu pelaku usaha tersebut adalah Putianah. Dia membuat tas cantik dari tali kur. Kebetulan, bidang kerajinan tangan memang telah lama dia sukai. Hingga akhirnya dia mulai memutuskan untuk membuat tas tersebut pada tahun lalu.
“Awalnya dari baca-baca buku yang ada di perpustakaan desa dan melihat tutorial yang ada di internet,” jelas perempuan yang akrab disapa Puti tersebut.
Setelah itu dia langsung praktik membuat tas dari tali kur tersebut. Dia butuh sekitar dua bulan untuk belajar. Hingga akhirnya dia mulai menguasai teknik dan motif. Ada beberapa pesanan yang didapatkannya sejak itu. Meskipun belum begitu banyak namun hal itu tetap menjadi sinyal positif.
Ada banyak pilihan model, warna dan motif yang dibuatnya. Begitu juga dengan ukuran dan tingkat kesulitannya. Produk buatannya antara lain adalah dompet dan tas jinjing perempuan. Harganya bervariasi. Dibanderol dari Rp 80 ribu hingga Rp 450 ribu.
Meski belum bisa menjadi pekerjaan utama, setidaknya usahanya tersebut bisa membantu perekonomian keluarganya. Pasalnya dia mengaku masih banyak terkendala masalah pemasaran barang. “Saya sebenarnya ingin ikut pameran di tingkat kabupaten agar lebih banyak dikenal orang lagi produk saya,” kata Puti.
Inovasi Pertanian, Ciptakan Alat Tebar Benih Praktis
Petani di Desa Purwodadi tidak lagi mengeluarkan biaya tinggi saat menanam padi. Adalah Surat, warga setempat yang menciptakan alat untuk mempermudah kerja para petani padi. Terutama saat masuk musim tanam. Alat itu dinamakan dengan Tabela, singkatan dari Tabur Benih Langsung.
”Tabela bisa menghemat ongkos dan waktu pengerjaan,” cerita Surat.
Surat bercerita bahwa awalnya bapak satu anak itu mendapat keluhan dari petani setempat. Alat bercocok tanam tersebut kerap menjadi rebutan. Sehingga tidak bisa digunakan banyak petani. Karena alat itu dianggap praktis, petani di sana mendesak Surat agar mau menciptakan alat serupa.
”Basic saya memang di las, untuk kepentingan petani di desa saya pun menyanggupinya,” akunya.
Beberapa inovasi pun ditambahkan. Beruntung, banyak petani mencarinya. Alat tersebut dinilai lebih praktis. Hingga saat ini rata-rata dalam satu bulan dia bisa memproduksi tiga alat untuk dikirim ke Kediri dan Nganjuk. ”Saya juga merasa senang bila alat yang saya buat bisa bermanfaat bagi petani,” kata Surat. Alat tersebut dibanderol dengan harga Rp 1 juta.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah