Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Srikaton, Papar, Kabupaten Kediri: Fasilitasi Ibu-ibu Desa Berkarya Membuat Tas Anyaman Plastik

Habibaham Anisa Muktiara • Kamis, 25 Juli 2024 | 17:32 WIB
BERDAYA: Asrifah Cholil menunjukkan tas anyaman dari bahan plastik kreasinya. Dia mengajak ibu-ibu Desa Srikaton untuk turut membuat kerajinan tangan tersebut.
BERDAYA: Asrifah Cholil menunjukkan tas anyaman dari bahan plastik kreasinya. Dia mengajak ibu-ibu Desa Srikaton untuk turut membuat kerajinan tangan tersebut.

JP Radar Kediri- Program pemberdayaan perempuan yang dilakukan Pemdes Srikaton patut diapresiasi. Emak-emak di sana difasilitasi kemampuan membuat kerajinan tangan berupa tas anyaman plastik.

Tidak hanya memberi dampak ekonomis. Program ini juga diharapkan dapat menekan penggunaan tas kresek sekali pakai. “Dari pada menggunakan bambu, tas anyaman berbahan plastik dapat bertahan lebih lama,” kata Asrifah Cholil, perajin tas anyaman dari Desa Srikaton.

Tak hanya dapat digunakan untuk berbelanja. Tas anyaman ini juga dapat digunakan sebagai buah tangan acara pengajian dan acara selamatan. Tidak kalah dengan tas yang terbuat dari kulit atau kain. Meski terbuat dari plastik, tas ini juga memiliki beragam varian warna dan bentuk.

“Kalau yang ukuran besar dengan motif bunga dapat digunakan sebagai nasi kota,” tuturnya.

Untuk pembuatan tas anyaman ini hanya menggunakan tali jali. Tali jali ini dianyam sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Karena terbuat plastik, ketika kena air atau kotoran tas ini dapat dibersihkan dengan mudah. Cara membersihkannya mudah, tinggal digosok dengan sikat gigi dengan air yang mengalir.

Tas anyaman plastik ini memiliki banyak warna. Mulai dari warna hijau, merah, kuning hingga abu-abu. Asrifah menjelaskan, kerajinan tas anyam plastik ini dikerjakan oleh ibu-ibu sekitar rumahnya.

Meskipun pemesanan masih sebatas wilayah Kediri, menurut Asrifah, usaha ini sedang dalam tren positif. Belum lagi dengan banyaknya pameran yang diikuti kelompoknya. Di antaranya seperti saat pekan budaya di taman Simpang Lima Gumul (SLG).

Serap Aspirasi Warga dengan Blusukan ke Sawah dan Warung

Menjadi Kades Srikaton membuat Agus Tri Kuncoro harus mengayomi warganya. Berbagai cara dilakukan untuk mendekatkan diri kepada masyarakatnya. Salah satunya dengan melakukan blusukan.

Agus menjabat Kades Srikaton pada 2019. Sejak itu dia harus lebih banyak mengenal karakteristik warganya. “Karena sebagian kerja di sawah, saya harus sering ke sawah juga,” ceritanya.

Dia mengaku tidak segan-segan keliling sawah untuk mendengar aspirasi warganya. Agus tak pernah merasa canggung. Pasalnya, dia dulunya juga seorang petani. Bahkan, dia pernah menjadi buruh tani. “Dulu saya kerja apa saja mau. Asalkan halal,” kata Agus.

Bekerja di sawah dilakoni Agus hingga terpilih menjadi kades. Bahkan dia tidak pernah berpikir untuk menduduki jabatan tersebut. “Saya dulu gak ada pikiran kalau suatu saat jadi kades. Tapi semua itu karena dukungan warga juga. Sehingga saya bisa memimpin Srikaton,” paparnya.

Baca Juga: Profil Desa Ngreco, Kandat, Kabupaten Kediri: Punya Aplikasi Pelayanan Online yang Keren

Karena berlatar belakang petani, metode pendekatan Agus adalah terjun langsung ke sawah. Setiap pagi sebelum ke kantor desa, dia menyempatkan pergi ke sawah dengan mengayuh sepeda. Dalam perjalanan, Agus mampir warung untuk sekadar berbincang dengan warganya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#desa milenial #berkarya #tas anyaman #pemberdayaan umkm #Profil Desa