JP Radar Kediri- Ada sebuah ritual tak lazim yang menjadi tradisi di Desa Kandat. Tradisi tersebut sudah dilakukan secara turun-temurun. Tidak sekalipun pernah absen. “Ritual ini sudah dilakukan sebelum saya lahir,” jelas Kaur Perencanaan Desa/Kecamatan Kandat Sigit.
Ritual tak lazim tersebut erat kaitanya dengan ritual persembahan. Ritual ini melibatkan bayi sebagai persembahannya. Saat ini, tradisi itu memang masih ada. Tetapi dalam pelaksanaannya sudah banyak perbedaan. Bayi yang dulunya dijadikan persembahan kini diganti dengan sebuah boneka.
Tradisi ini dikenal dengan sebutan mbeleh golekan. Dimana Mbeleh golekan dapat diartikan sebagai menyembelih boneka. Boneka yang digunakan dalam ritual merupakan simbol tumbal.
Dalam tradisi ini, masyarakat Desa Kandat juga menggelar berbagai perayaan dan pertunjukan seni tradisional. Sebelum masuk pada ritual utama, boneka tersebut diarak keliling kampung.
Arak-arakan tersebut dikemas dalam wujud kirab budaya. Barisan paling depan dalam arak-arakan ditempati oleh orang yang menggendong golekan. Kemudian diikuti oleh barisan masyarakat yang ikut serta dalam pawai tersebut.
Tradisi ini memiliki makna tersendiri bagi warga Desa Kandat. Bagi mereka, acara bersih desa merupakan alat untuk membersihkan segalanya. Baik lingkungan, hati, dan pikiran.
Jadi Spot Foto dan Selamatan saat Musim Tanam
Di Desa Kandat terdapat bangunan peninggalan Belanda. Bangunan tersebut dikenal sebagai water tower. Bangunan tersebut merupakan fasilitas pengisian air yang digunakan sebagai bahan bakar kereta uap.
“Kalau sekaran sudah tidak digunakan, namun masih terawat,” kata Kasi Kesejahteraan Rakyat Desa Kandat Saiffudin Zuhri.
Menurut Saiffudin pemerintah kolonial banyak mendirikan pabrik gula di wilayah Jawa. Bahkan, pabrik tersebut juga dilengkapi beragam fasilitas pendukung. Seperti akses kereta untuk mengangkut tebu.
“Bangunan ini digunakan sebagai tempat penyimpanan air yang digunakan untuk mengisi air pada trem atau kereta uap,” terangnya.
Bangunan ini berdiri tegak seperti Menara. Ini dimaksudkan untuk memudahkan pengisian air pada lokomotif kereta uap. Jika dilihat lebih dekat pada bangunan ini masih terdapat beberapa pipa air yang menggantung di langit-langit bangunan.
Meskipun bangunan ini sudah cukup tua, namun spot ini cukup populer di kalangan anak muda. Biasanya mereka datang ke tempat ini untuk berfoto. “Selain buat foto, saat musim tanam akan dilakukan selamatan disini,” pungkas Saiffudin.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah