JP Radar Kediri - Desa Karanganyar terkenal dengan pembudidaya ikan. Salah satunya budidaya ikan hias. Dengan adanya potensi tersebut pemerintah mendukung dengan menggabungkan dalam paket wisata edukasi.
“Desa ini adalah sentra peternak ikan hias,” jelas Kepala Desa Karanganyar, Kecamatan Wates Kardianto.
Dengan adanya potensi tersebut pemerintah desa sangat memberikan dukungan. Salah satu dukungan tersebut dengan memasukkannya dalam paket wisata edukasi. Bahkan paket wisata ini bekerjasama dengan UMKM lain yang ada di desa. “Jadi dengan adanya wisata ini dapat mengangkat perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Dari keterangan yang didapatkan, salah satu tempat budidaya ikan hias tersebut adalah milik Agung Wibowo. Rupanya Agung telah membuka bisnis ikan hias sejak tahun 2000. Usaha tersebut dilakukan karena ikut-ikut tetangga yang kebetulan juga peternak ikan. “Warga desa ini sudah banyak jadi peternak ikan sejak tahun 1998,” kata Agung.
Namun, sejak tahun 2005, satu per satu pembudidaya mulai gulung tikar. Hingga saat ini, hanya akhirnya Agung saja yang bisa bertahan. Karena itu ia pun memutuskan untuk terus menekuni usaha ini.
Awalnya, dia hanya punya satu kolam saja. Itu pun hanya pinjaman. Agung tidak memiliki indukan dengan kualitas bagus. “Karena itu, dulu saya awali dengan tukar menukar indukan dengan para tetangga yang saat itu masih membudidaya koi,”ujar Agung.
Saat itu, Agung pun mengaku belum paham, mana koi yang berkualitas baik dan yang biasa-biasa saja. “Memang, jika tidak terbiasa, koi yang biasa-biasa saja bisa terlihat bagus. Padahal, ada yang lebih bagus lagi,” ucap Agung.
Ditambah, ia juga tidak memiliki jaringan pasar sekuat sekarang. Saat itu, dia hanya mengandalkan pihak ketiga. Karena itu, keuntungannya tidak bisa maksimal.
Namun, Agung tidak mudah menyerah. Begitu pun saat ikan koinya banyak yang mati karena serangan penyakit. “Kalau cuaca ekstrem seperti antara Bulan Juli, Agustus, dan September ikan banyak yang terserang virus,” terangnya.
Tentu saja, kondisi itu pernah membuatnya merugi. Tapi karena kegigihannya, Agung justru mendapat pengetahuan tentang cara mengatasi permasalahan tersebut.
“Kalau koi yang sudang berukuran besar maka akan kita isolasi hingga daya tubuh ikan menguat untuk melawan virus tersebut,” tutur Agung.
Untuk ikan kualitas jelek dan sedang biasa dia jual ke pedagang ikan keliling. Sementara ikan koi dengan kualitas bagus, biasa dijual ke kolektor dan pecinta ikan dengan harga hingga jutaan rupiah.
Tanaman Puring dari Karanganyar Tembus Pasar Luar Kota
Salah satu pembudidaya tanaman puring adalah milik Joko Sukoco. Dia telah lama menggeluti usaha tersebut. “Usaha ini saya mulai sejak tahun 2015 lalu,” cerita Joko.
Dia mengatakan bahwa usahanya ini berawal ketika dia belajar menanam dari salah satu rekannya di Desa Bedug, Ngadiluwih. Setelah sekian lama mencoba, Joko memutuskan untuk mulai membudidaya tanaman sendiri.
Tanaman puring ini sangat tergantung dengan air. Karena itu, Joko lebih banyak membudidayakan puring saat musim penghujan. “Meski begitu, sebenarnya tanaman ini tidak mengenal musim. Karena itu, musim kemarau seperti sekarang saya masih bisa bekerja,” terang Joko.
Harga jual tanaman puring ternyata juga lumayan. Untuk panjang 15-20 sentimeter bisa terjual seharga Rp 50 ribu. “Kalau lebih besar lagi bisa lebih mahal mencapai Rp 100 ribu,” tuturnya.
Selain partai kecil, Joko sering melayani pesanan tanaman dalam partai besar. “Sekali ambil, biasanya mencapai 3 ribu. Karena kalau sedikit, sedikit bisa menghabiskan banyak biaya,” aku Joko.
Biasanya, bunga puring hasil budidaya Joko bisa terjual hingga keluar kota. Seperti Kota Batu, Sragen, dan Jawa Tengah.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah