JP Radar Kediri - Dedy Ariwibowo duduk termangu di depan rumah yang tinggal puing-puing itu. Sesekali tangannya mengangkat handphone di genggaman. Mendekatkan ke telinga. Kemudian bertukar kata dengan suara yang terdengar dari seberang.
“Sebenarnya sudah niat mau ke sini, berangkat pagi,” ucap pria dengan tato wajah wanita di lengan kanannya ini.
Ya, Dedy sehari-hari memang tinggal di Surabaya. Tapi, setiap seminggu sekali pasti mengunjungi sang ayah, Muhammad Nurhasim, yang tinggal di Gang 1 Kelurahan Pakunden, Kecamatan Pesantren. Sayang, niatannya itu kali ini keduluan suratan takdir. Ayahnya meninggal menjadi korban kebakaran.
Nahas yang menimpa ayahnya itu memang terjadi lewat tengah malam. Namun, pria 38 tahun ini baru tahu saat subuh. Saat dia menyalakan handphone pukul 04.00.
“Saat kejadian HP saya charge. Pas subuh ketika bangun kok banyak notif. Saya pastikan kebenarannya. Setelah itu langsung saya menuju ke (Terminal) Bungurasih,” ceritanya.
Tentu saja, banyak kenangan yang muncul di benaknya pada sosok sang ayah. Terutama permintaannya agar Hasim tak lagi menjadi ketua rukun tetangga (RT). Karena usianya yang kian menua. Sayangnya, warga berkeinginan lain. Tetap memilihnya menjadi ketua RT.
“Jadi keamanan kampung juga bapak,” jelasnya.
Kenangan serupa juga dimiliki Iin Nur Hapsari, adik ipar Hasim. Wanita 47 tahun yang sehari-sehari berjualan lontong di Pasar Setonobetek ini menyebut kakak iparnya itu adalah sosok yang ramah dan ringan tangan. Wajar bila warga terus memercayai menjadi ketua RT.
“Saat (pandemi) Covid rajin menyemprot disinfektan ke rumah-rumah warga. Berkeliling membawa jeriken,” kenangnya.
Sayangnya, memori itu harus terkubur bersama jilatan api yang membumihanguskan rumah yang dia diami. Sebagai gantinya adalah ingatan bagaimana bencana itu merenggut nyawa Hasim.
“Saat itu saya sedang tidur. Dibangunkan anak saya. Diberitahu ada asap,” ujarnya.
Awalnya, Iin mengira asap muncul dari dapur. Ternyata tidak ada apa-apa. Hal itu membuatnya panik. Bergegas dia menuju kamar sang kakak yang berusia 59 tahun itu. Benar saja, kamar itu sudah dipenuhi api.
Di tengah kepanikan itu, dia berusaha menyelamatkan sang kakak. Mencari air dan menyiramkan ke api di kamar tersebut. Tapi, bukannya padam, jilatan si jago merah kian menjadi. Dia pun menyuruh Satrio, sang anak, mencari bantuan. Memanggil para tetangga, membantu memadamkan api.
“Saya gunakan handuk basah. Diselang juga (menyiramkan air melalui selang, Red). Tapi api makin membesar,” ucapnya.
Iin pun berteriak memanggil nama Hasim. Memintanya agar keluar kamar. Namun, yang diteriaki justru terdiam di pojokan kamar. Para tetangga yang berdatangan pun melakukan hal serupa. Menyuruh agar Hasim beranjak dan keluar kamar. Tapi, Hasim tetap terduduk di dalam kamar.
“Seperti bingung, mungkin mau lari tak berani. Soalnya api sudah besar,” duganya.
Iin sendiri menduga api berasal dari kamar kakaknya itu. Sebab, Hasim memang terkenal sebagai perokok berat. Api pun diduga berasal dari puntung rokoknya yang masih menyala. Kemudian berubah jadi kobaran api karena kamar dipenuhi barang-barang yang mudah terbakar.
“Pintu kamarnya juga setengah tertutup lemari plastik yang terbakar. Jadi menghalangi jalan keluar,” lanjutnya.
Berbagai upaya dilakukan Iin dan para tetangga untuk memadamkan api. Tentu dengan alat seadanya. Tapi, apa daya, kebakaran terus membesar. Akhirnya, warga pun mendatangi kantor pemadam kebakaran terdekat. Sayangnya, semua upaya itu tak mampu menyelamatkan sang ketua RT yang dikenal ramah itu. Yang pergi untuk selamanya seiring padamnya api beberapa jam setelah kejadian.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah