JP Radar Kediri - Pertanian organik di Kabupaten Kediri terus digaungkan. Perjuangan tidak hanya dilakukan saat menanam saja. Mereka juga konsisten berusaha melakukan pemasaran. Namun mendapatkan izin produk tersebut mereka memerlukan usaha dan penantian yang lama.
“Produk dan logo baru diumumkan pada tanggal 10 Juni 2020,” terang Achmat Yatim Setiawan salah satu petani organik.
Pria yang akrab disapa Yatim ini mengatakan bahwa izin produk sangatlah penting. Pasalnya menjadi salah satu langkah untuk petani organik dapat memasarkan produk. Tidak hanya menunggu proses verifikasi. Namun juga terdapat usaha dalam menetapkan nama.
“Sebelum menggunakan nama Orila, sempat menggunakan nama Dewi Sekartaji,” ucapnya.
Pada 2018 mereka mendaftarkan nama produk pada Dinas Perdagangan Kabupaten Kediri. Bersama dengan Ali Mahsun dan Agus Salim mereka mencari nama untuk brand beras organik. Nama yang sempat diajukan adalah Putra Panji, Panji, dan Orila. Kemudian dari nama-nama yang digunakan adalah Orila.
“Karena kita merupakan gabungan organik Kabupaten Kediri maka menggunakan nama tersebut,” ungkap Ali.
Nama produk Orila diperuntukkan bagi semua petani organik di Kabupaten Kediri. Sehingga semua petani organik dapat menggunakannya. Akan tetapi untuk menggunakan nama produk tersebut mereka harus melalui kelompok tani.
Yatim mengatakan untuk mendapatkan nama brand tersebut pihak petani mendapatkan bantuan dari Dinas Perdagangan dan Dinas Pertanian Kabupaten Kediri. Tanpa memiliki nama atau brand, petani organik tidak bisa menjual beras secara komersial.
Namun setelah memiliki izin brand, beras organik tersebut dapat dijual hingga luar kota. “Karena masih baru dikeluarkan, petani organik yang menggunakan nama Orila masih saya,” kata laki-laki asal Desa Katewang tersebut.
Tetap Dipercaya Menjadi Pandai Besi sejak Puluhan Tahun
Tidak hanya terkenal akan produksi beras organiknya. Di Desa Ketawang juga terkenal akan usaha pandai besinya. Satu-satunya pandai besi yang masih menekuninya adalah Mukasi. Pria 72 tahun ini sudah eksis mengerjakan peralatan dapur dan pertanian sejak 1974.
Selama 49 tahun itu pula kakek satu cucu ini juga tidak menutup mata dengan perkembangan zaman. Dia selalu berbenah dan menambah alat-alatnya dengan yang sudah modern. “Alat yang saya gunakan sudah banyak yang berubah,” kata Mukasi.
Dikerjakan bersama tiga orang, Mukasi mendapat banyak pesanan. Berkat ketekunannya, produk buatan tangannya kini sudah dijual secara online.
Mukasi menunjukan beberapa contoh yang akan dikirim. Baru kemudian dipoles lagi menjadi barang yang harganya bisa mencapai Rp 500 juta sampai Rp 1 juta. Dari dirinya, dia hanya menjual dengan harga Rp 200 ribu. “Paling murah Rp 20 ribu, pisau dapur,” katanya sambil tertawa ringan.
Selama 49 tahun menjadi pandai besi, Mukasi hanya memproduksi produk pertanian dan rumah tangga terutama dapur. Sebelum Idul Adha, dia banyak memproduksi pisau pemotong untuk menyembelih hewan kurban. Sementara sebelum masuk masa tanam, dia banyak memproduksi cangkul. “Saya kerjakan sesuai dengan musim dan momen tertentu,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah