Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Sempu, Ngancar, Kabupaten Kediri: Ekonomi dan Tradisinya Mengakar Kuat di Desa Ini

Habibaham Anisa Muktiara • Selasa, 2 Juli 2024 | 23:12 WIB
MERIAH: Selamatan lengkong setiap bulan Sura di Desa Sempu, Kecamatan Ngancar selalu ramai dihadiri warga.
MERIAH: Selamatan lengkong setiap bulan Sura di Desa Sempu, Kecamatan Ngancar selalu ramai dihadiri warga.

JP Radar Kediri - Desa ini berada di kaki gunung Wilis. Desa dengan luas sekitar 274 hektare ini memiliki sebuah tradisi yang rutin dilakukan setiap Sura. Nama tradisi tersebut adalah selamatan lengkong. “Tradisi bersih desa di sini dilakukan rutin,” terang Kepala Desa Sempu Eko Suroso.

Menurut Eko, ada yang berbeda dengan kegiatan suroan dengan desa-desa lain. Saat selamatan lengkong terdapat makanan yang dihidangkan dengan wadah dari pelepah pohon pisang.

“Masyarakat di sini menyebutnya lengkong,” terangnya.

Bukan tanpa alasan kenapa masyarakat di sana menggunakan pelepah pisang untuk membuat lengkong. Pelepah pisang ini memiliki banyak filosofi. Mulai dari akar, batang, buah, hingga daunnya bisa bermanfaat bagi orang lain. Tidak terkecuali manusia yang memberikan manfaat untuk orang lain

Baca Juga: Kisah Regina Menyelamatkan Diri dari Amukan si Jago Merah yang Membakar Rumah Kos di Kota Kediri

Setiap rumah membuat satu lengkong. Jumlah takirnya sesuai jumlah keluarga. Lengkong tersebut dibawa ke acara untuk didoakan dan ditukar dengan lengkong warga lainnya.

“Jadi tradisi ini bertujuan untuk mewujudkan guyub rukun antarwarga Desa Sempu agar tetap terjalin kebersamaan dan kemakmuran,” tandas Eko.

 

Konsisten Geluti Usaha Ternak Lebah Madu sejak 1992

Bila jalan-jalan ke Desa Sempu, Anda tidak hanya dimanjakan pemandangan alamnya yang asri. Di sana ada pula usaha ternak lebah madu yang dekat dengan hunian rumah warga. Pengelolanya adalah Kasmidi, 45. Dia menekuni usaha ternak lebah madu sejak tahun 1992 Pria yang akrab disapa Midin Madu itu memulai usahanya dari bekal pengalamannya bersama para pemelihara lebah madu.

“Saya tidak sekolah, bisa memelihara madu karena belajar dari peternaknya langsung,” cerita Kasmidi saat ditemui oleh wartawan Jawa Pos Radar Kediri.

Jangka waktu panen Midin Madu itu paling cepat hanya 15 hari. Dalam kurun waktu itu, madu yang dihasilkan bisa mencapai 1 kwintal. Hanya dalam waktu setengah bulan dia bisa menjual 10 botol madu sirup seharga Rp 120 ribu. Setidaknya hanya setengah bulan dia mengantongi uang
Rp 1,2 juta.

“Harga itu yang sudah dikemas,” kata bapak dari dua anak tersebut.

Bukan saja itu, produksi madu milik Midin pun menarik perhatian dari peneliti saat itu datang ke Desa Sempu. Mereka tertatik dengan hasil madu yang dikembangkan Midin. Pasalnya mereka menganggap madu yang dibuat oleh Midin termasuk madu murni.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #kediri #ternak madu #desa millenial #sura #ngancar kediri #jawa pos #tradisi lengkong