JP Radar Kediri - Usaha pembuatan tusuk sate milik Hartoyo tengah berkembang. Dalam sehari, pria 40 tahun ini bisa memproduksi 50 kilogram tusuk sate dalam sehari. Jika ditotal, ada sekitar 50 ribu batang tusuk sate per harinya.
“Rata-rata kami produksi sebanyak itu, tapi juga tergantung pesanan pelanggan,” cerita Hartoyo tentang usaha pembuatan tusuk satenya.
Hartoyo bercerita bahwa puluhan sate buatannya ini sudah diedarkan di beberapa tempat. Tidak hanya di Kediri saja. Namun sudah sampai ke daerah tetangga. Seperti Blitar, Tulungagung, Nganjuk, hingga ke Surabaya.
Pesanan tusuk sate miliknya sangat laris di pasaran. Tiap seribu tusuk sate dijual dengan harga Rp 8 ribu untuk bentuk persegi. Sedangkan tusuk bulat seharga Rp 12 ribu. Berarti dalam sehari, omzet yang diperoleh sekitar Rp 400 ribu.
Namun, warga sekitar belum begitu tertarik. Jika melihat pasar, lanjut Hartoyo, banyak yang menginginkan. “Pesanan tusuk sate ini akan meningkat di momen tertentu. Salah satunya saat Idul Adha atau tahun baru,” ucapnya.
Saat itu, banyak penjual sate dan beberapa pasar yang memesan langsung ke Hartoyo. “Setiap hari pasti ada pesanan. Jadi kami juga kadang sampai mencari orang untuk membantu membuat tusuk sate,” ungkapnya.
Selama ini, Hartoyo membuat tusuk sate hanya bersama Erni Hartati, istrinya. Terkadang saudaranya juga diajak untuk membantu. Itu terjadi karena terlalu banyaknya pesanan di pasar.
Pasarkan Kerajinan Barongan melalui Media Sosial
Perajin barongan di Kediri sangat menjamur. Karena banyaknya peminat, perajin barongan cukup mudah ditemukan. Seperti usaha yang dirintis oleh Yudi Dewantoro asal Desa/Kecamatan Papar ini.
“Saya sudah lama menekuni usaha barongan atau biasa disebut caplokan ini, ujar Yudi.
Dia bercerita bahwa kerajinan barongan atau caplokannya ini berdiri sekitar enam atau tujuh tahun yang lalu. Usaha kerajinan tersebut bermula saat dia ingin memiliki barongan sendiri untuk kebutuhan sanggarnya. Dengan nekat dana pas-pasan akhirnya dia mencoba belajar membuat barongan.
Dia tidak mencontoh bentuk aslinya. Melainkan hanya melihat gambar barongan sebagai contohnya. “Awalnya yang buat untuk sendiri saja. Lama-lama banyak pesanan,” ungkapnya.
Seiring waktu berjalan, pesanannya semakin banyak. Dia dibantu oleh Anggi Feronika Rinjani, istrinya untuk memenuhi pesanan barongan tersebut. Dia memerlukan waktu hingga satu bulan untuk bisa menyelesaikan borongannya.
Dia mengaku pengerjaannya lama karena mementingkan kualitas dan detail ukiran. Sehingga saat pesanan hadir tidak bisa segera jadi. “Selain itu alat saya semua juga masih manual. Seperti saat melakukan pengecatan kami masih menggunakan kuas biasa tidak dengan air brush agar lebih cepat,” ucap pria kelahiran 1990 itu.
Melalui media sosial (medsos), karya barongannya itu dikenal luas hingga ke luar Jawa. Dari medsos itu juga berdatangan dari Kalimantan, Sumatera, hingga Sulawesi.
“Alhamdulillah banyak pesanan kami. Karena hanya dikerjakan berdua jadi agak lama,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah