JP Radar Kediri - Namanya Desa Sempu. Secara administrasi masuk wilayah Kecamatan Ngancar. Yang berada di lereng Gunung Kelud, gunung yang tergolong sebagai gunung berapi aktif.
Meskipun berada di lereng gunung, akses ke desa ini relatif mudah. Memang, jalannya berkelok khas pegunungan. Namun sudah beraspal mulus sehingga mudah dilalui kendaraan roda dua maupun empat. Hanya, bus ukuran besar masih kesulitan untuk melewati.
Jarak tempuhnya pun tak terlalu lama. Dari Kota Kediri hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam. Melalui jalan yang di kanan-kirinya terhampar pemandangan hijau segar. Persawahan dengan aneka tanaman. Nanas menjadi yang paling dominan. Selain tomat dan, sebagian, lahan yang ditanami sengon.
Sebagai desa di lereng gunung berapi, Sempu memang dikaruniai tanah yang subur. Kaya akan potensi pertanian. Ditambah lagi, juga memiliki aneka kesenian serta pemandangan alam yang melenakan. Layak bila mereka terpilih menjadi 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024. Salah satu penilaian desa wisata yang digeber oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).
“Sebenarnya kami tidak menyangka bakal masuk 50 besar. Waktu daftar kemarin (awalnya) unguk menggugurkan kewajiban saja,” ucap sang kepala desa, Eko Soeroso.
Proses pendaftaran boleh karena terpaksa. Tapi, harus diakui, potensi desa seluas 274 hektare ini di bidang pariwisata sangatlah besar. Gabungan antara kekayaan alam, kekayaan budaya, serta keramahan penduduknya. Wajar bila menjadi satu dari empat desa di Jatim yang bertahan hingga babak 50 besar.
Desa ini memang mengandalkan kearifan lokal sebagai pemikat wisatawan. Bukan bergantung pada satu destinasi wisata saja. Maka, yang terlibat tak hanya perangkat desa atau investor. Seluruh penduduk terlibat aktif.
“Keunggulan kami memang kolaborasi antara potensi lokal dengan sumber daya dari investor,” sang kades memberi titik tekan.
Karena itulah, ikon wisatanya juga bukan satu tempat. Semua aktivitas warga bisa dijadikan senjata pemikat. Menjadi bagian dari konsep dewa wisata yang ditawarkan. Termasuk bisa mengikuti tradisi ruwatan, belajar seni jaranan yang ada di desa ini, serta mengikuti pentas budaya.
Eko kemudian mencontohkan wisata edukasi peternakan. Pemdes bekerja sama dengan salah satu penduduk, bernama Nuryanto. Pria ini memang seorang peternak kambing. Bila ada wisatawan yang ingin melihat akan dibawa ke peternakan milik pria 44 tahun ini. Para pengunjung itu bisa belajar tentang cara memelihara kambing ataupun membuat pakan. Kebanyakan, yang datang adalah para mahasiswa.
“Tentu saja senang bisa menularkan ilmu,” ucap Nuryanto, yang mengaku sudah beternak kambing sejak lima tahun silam.
Nuryanto juga tak ingin pengetahuan yang dia tularkan ke wisatawan hanya itu-itu saja. Karena itulah si peternak ini terus belajar semua pengetahuan yang terkait dengan peternakan. Seperti pembuatan silase, pakan ternak berkonsep fermentasi. Pengetahuan tentang pakan itu dia pelajari dua tahun terakhir.
Bukan hanya jenis wisatanya yang beraneka ragam yang menarik dari Desa Wisata Sempu. Desa yang mendeklarasikan sebagai desa wisata sejak 2011 ini juga menyediakan tempat menginap yang berbaur dengan warga. Tidak di home stay khusus yang hanya diisi oleh penyewa. Melainkan menjadi satu di rumah penduduk. Menggunakan kamar di antara kamar-kamar pemilik rumah.
“Konsep seperti ini justru dicari oleh pengunjung,” terang Eko.
Ide konsep home stay seperti itu datang karena Desa Sempu sering kedatangan mahasiswa yang kuliah kerja nyata (KKN). Mereka biasa ditempatkan di rumah-rumah penduduk. Hal itu yang memantik ide menginapkan wisatawan di rumah penduduk pula.
Salah satu rumah yang menjadi tempat menginap adalah milik Kasmidi. Di rumah pria 45 tahun ini menyediakan dua kamar untuk wisatawan.
“Sehari-hari itu kamar anak saya,” tunjuk Kasmidi pada kamar yang dia sewakan untuk wisatawan.
Bagi wisatawan yang menginap di rumah Kasmidi akan mendapat ‘paket plus’. Sebab, pria ini bekerja sebagai peternak lebah madu. “Jadi, bila menginap di sini juga bisa belajar cara beternak atau mengemas madu,” terangnya, sambil bercerita bahwa sudah puluhan wisatawan yang menginap di rumahnya.
Kini, Desa Sempu tinggal menunggu penilaian lanjutan. Agar bisa kembali terpilih untuk masuk ke babak yang lebih tinggi. Rencananya, penilaian bagi desa-desa yang masuk babak 50 besar berlangsung Juni hingga September. Meskipun, saat ini belum ada kabar kapan penilai dari Kemenparekraf akan datang.
“Nanti, lima hari sebelum kedatangan tim juri dan Pak Menteri (Menkaparekraf Sandiaga Uno, Red) baru memberi kabar,” terangnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah