JP Radar Kediri - Toko bangunan itu terpecah menjadi tiga bagian, walaupun pemiliknya satu orang. Paling selatan, di dekat halte berwarna biru, berisi barang-barang berukuran kecil. Seperti paku dan sejenisnya, gerendel pintu, dan perkakas lain. Sementara yang dua lagi barang dagangannya lebih ‘berat’. Mulai semen, keramik lantai, hingga perkakas toilet dan kamar mandi.
Berada di tepi jalan raya, Jalan Ahmad Dahlan, secara fasad toko ini juga terlihat sederhana. Cenderung terkesan sebagai bangunan lawas. Meskipun, bila melihat isinya, toko bangunan ini boleh dikata toko besar. Barang-barang yang dijajakan juga tergolong lengkap.
Yang tak banyak orang tahu, toko ini ternyata menyimpan sesuatu yang ‘besar’. Di tempat inilah serpihan kehidupan tokoh besar bernama Tri Rismaharini tertinggal. Wanita yang kini menjadi Menteri Sosial tersebut itu pernah mengisi masa kecilnya di tempat ini.
“Waktu kecil beliau pernah tinggal di Gang 3 (Kelurahan Mojoroto),” jelas Dian Idawati. Wanita ini adalah sang pengelola toko bangunan sekaligus kerabat mantan Wali Kota Surabaya tersebut. Suaminya adalah sepupu Risma.
“Keluarga manggilnya Mbak Ririn. Ibunya beliau itu kakak dari mertua saya,” lanjutnya.
Di lingkungan itu, Risma cilik banyak menghabiskan waktu. Bersama kerabat dan teman. Ibunya merupakan sosok yang berpengaruh dalam berdirinya Panti Asuhan Muhammadiyah, yang berjarak kurang dari 50 meter dari toko bangunan tersebut.
Menurut wanita 55 tahun itu, ibunda Risma dulu merupakan seorang Aisyiyah di organisasi Muhammadiyah Kota Kediri. Termasuk salah satu pendiri Panti Asuhan Muhammadiyah Kota Kediri.
Karena itulah, sebelum mampir ke tokonya beberapa waktu lalu, Risma lebih dulu menengok panti asuhan tersebut. Meski pengurusanya bukan lagi dari keluarganya, setidaknya menjadi pengobat rasa rindu dengan kehidupan masa kecilnya.
Risma sendiri memang sempat mampir di tempat masa kecilnya itu 6 Juni lalu. Tanpa raungan sirine dan riuhnya patwal, sang menteri tiba-tiba berhenti dan singgah di rumah kerabatnya tersebut.
“Di sini nggak lama juga. Nggak sampai 10 menit. Katanya dalam perjalanan dari Surabaya mau ke Tulungagung,” jelas Ida lagi.
Kedatangan yang tiba-tiba itu tentu saja membuat kaget sang pemilik rumah. Apalagi tanpa pemberitahuan sebelumnya.
“Tak pernah komunikasi sebelumnya tiba-tiba datang. Biasanya hanya bertemu di acara keluarga,” sambungnya.
Dian mengakui, sebelum ini tak banyak yang tahu bahwa sosok wanita tegas ini pernah tinggal di Kota Kediri. Apalagi, dia dan suaminya tak ingin membesar-besarkan relasi dengan sosok yang kini namanya disebut-sebut sebagai kandidat calon gubernur Jatim ini.
“Karena ada yang upload video (kunjungan) itu, akhirnya banyak yang tanya, loh ternyata saudaranya Risma, to? Sampai ditanya, gimana rasanya omong-omongan sama menteri?” ujarnya, lagi-lagi sembari tertawa mengenang reaksi orang di sekitarnya atas kedatangan Risma hari itu.
Meski tak begitu dekat, sosok Risma tetap menaruh kesan tersendiri bagi keluarga. Ida menceritakan saat 3-4 tahun lalu bertemu dengan Risma di acara pertemuan keluarga. Digelar di tempat asal Ayah Risma di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Risma yang saat itu masih menjabat Wali Kota Surabaya itu turut hadir.
Bagi Ida, Risma adalah sosok yang pendiam. Di aktivitas berkumpul bersama keluarga, dia tak banyak berkomunikasi dengan orang-orang. Di sisi lain, sosok pekerja keras nan tegas juga nampak dari diri ibu dua anak itu. Sifat itu yang agaknya juga diturunkan dari sang Ibu.
“Meskipun pendiam, tapi nggak sombong. Kalau lagi ngomel-ngomel gitu, suami saya selalu bilang, peh kayak Budhe Zaini (ibu Risma, Red),” kelakarnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah