JP Radar Kediri - Desa Mlancu memiliki banyak hasil bumi yang melimpah. Tidak hanya hasil pertanian. Namun juga hasil perkebunan. Bahkan karena terlalu melimpahnya hasil perkebunan, warga menjadi kewalahan. Terutama dalam hal pemanfaatan dan pengolahan dari buah-buahan hasil perkebunan tersebut.
“Salah satunya adalah buah rambutan,” terang Kepala Dusun Slumbung Mulyono.
Ketika panen rambutan di Desa Mlancu, banyak buah yang terbuang sia-sia. Bukan karena gagal panen namun harga pasar yang begitu murah. Sehingga membuat warga yang memiliki rambutan memilih untuk tidak memanennya.
Salah satu warga yang memiliki kebun rambutan adalah Kepala Desa Mlancu Sriono. “Ketika sedang panen raya, harga rambutan satu kilogram Rp 1.000,” jelas Sriono.
Kala itu, pemkab memfasilitasi pelatihan. Warga disarankan untuk mengolah rambutan tersebut menjadi manisan. Sehingga dapat bertahan lebih lama. “Namun karena saat itu masih belum ada yang bisa, kami minta diadakan pelatihan,” sambung Mulyono.
Untuk mempelajari cara membuat manisan, sekitar 14 orang dikirim pelatihan ke Cianjur. Salah satu pembuat manisan di Desa Mlancu adalah Evi Rosida. Istri dari Kasun Mulyono itu langsung mengaplikasikan bekal pelatihan tersebut.
Tidak hanya buah rambutan. Namun buah-buahan lain seperti mangga, nanas, hingga salak menjadi variasi manisan buah milikinya. “Satu kali buat, saya dapat membuat sekitar 50 kg,” ungkap Evi.
Dalam pembuatan manisan, tahap paling lama adalah pembersihan getah pada buah. Proses perendaman sendiri memakan waktu minimal tiga hari. Semakin lama perendaman maka akan semakin bagus buat buah tersebut.
“Setelah dilakuka perendaman, kemudian diolah menjadi manisan,” ucapnya. Untuk hasil manisan buatannya, Evi menjualnya di pameran atau kegiatan umkm yang diadakan Pemkab Kediri.
Konsisten Kembangkan Pembuatan Keripik Gote hingga Terkenal Luas
Perkembangan dunia usaha di Desa Mlancu disambut baik oleh pemdes. Pasalnya dengan hadirnya UMKM akan banyak dampak positif yang didapat.
Seperti usaha pembuatan keripik gote yang dikembangkan oleh Tarmiati, 34.
“Selain keripik gote, juga ada keripik ketela dan enting-enting,” terang Tarmiati ketika ditemui dirumahnya kemarin.
Sudah dua tahun ini Tarmiati menekuni usahanya tersebut. Selama ini dia menekuni usahanya sendiri. Ketika awal usaha, dia menjualnya kepada pedangan keliling. Kini dia juga menjajakan keripik buatanya di pameran yang diadakan.
“Karena saya kerja sendiri, saya buatnya satu minggu sekali,” ucapnya. Dalam sekali pembuatan, Tarmiati membutuhkan sekitar lima kilogram gote. Semula gote tersebut merupakan hasil panenannya sendiri. Namun karena jumlah pemesanan semakin banyak dia akhirnya membeli gote dari warga desa lain.
Untuk menjaga kualitas keripik gote buatannya, Tarmiati sangat memperhatikan proses bembuatanya. Salah satunya adalah menghilangkan getah pada buah gote. Untuk menghilangkan getah dia membutuhkan sekitar empat jam.
“Apabila tidak direndam lama, nanti membuat gatal,” tutur Tarmiati.
Agar keripik buatanya selalu renyah, Tarmiati menggunakan minyak goreng kemasan. Tidak hanya memiliki satu varian, keripik buatannya juga memiliki berbagai macam rasa. Seperti barbecue dan bawang.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah