JP Radar Kediri - Berbicara soal jaranan, banyak hal yang telah dilakukan Pemerintah Desa (Pemdes) Kras di Kecamatan Kras. Mereka menggunakan kesenian ini sebagai branding desa. Kemudian memberi pendampingan termasuk publikasi melakui website desa.
Pemdes pun merangkul kelompok kesenian ini agar semakin berdaya. Salah satunya adalah kelompok jaranan Turonggo Saputro Budoyo.
“Ini sudah turun-temurun dari nenek moyang kami. Jadi kami hanya mewariskan budaya ini kepada generasi anak muda,” kata Agus Seno, pemilik Turonggo Saputro Budoyo.
Seno berharap kesenian jaranan yang menjadi ciri khas Desa Kras bisa sebagai sarana mem-branding desa. Sebagai salah satu upaya mengangkat citra desa. “Kami berharap branding desa dengan mempertahankan budaya Jawa jaranan ini bisa meningkatkan perekonomian warga,” imbuhnya.
Sebagai pemilik sanggar, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi tentang sejarah berdirinya jaranan di Desa Kras. Kemudian melakukan langkah persuasif agar masyarakat semakin mencintai kesenian ini. Dengan cara memadukan unsur baru dan unsur konvensional yang mempertahankan sisi kearifan lokal.
Agus Seno berharap budaya Jaranan ini dapat memberikan kontribusi untuk warga desa Kras. Terutama dari wisatawan yang datang untuk belajar seni Jaranan. “Secara tidak langsung, kami berharap dapat mengangkat perekonomian warga di Desa Kras,” pungkasnya.
Kembangkan Tahu Tempe, Pasarkan ke Kediri Raya
Pemerintah Desa (Pemdes) Kras sangat mendorong berkembangnya usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) di wilayahnya. Salah satu usaha tersebut adalah pengolahan kedelai menjadi tahu dan tempe.
Salah satu yang menekuni usaha ini adalah Suryanto. Pelaku UMKM asli Dusun Kras ini sudah menjalankan usahanya tersebut berpuluh tahun. “Awalnya ikut orang, namun sekarang saya membuka usaha sendiri,” cerita Suryanto.
Terkait produksi, kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri Suryanto bercerita bahwa dalam sehari ia bisa menghabiskan 10-12 kilogram kedelai. Namun bahan baku akan mengalami peningkatan produksi di waktu-waktu tertentu. Salah satunya ketika menjelang puasa hingga Lebaran. Saat itu pesanan meningkat hingga menghabiskan 50-60 kilogram kedelai.
“Kalau menjelang Lebaran, pesanan bisa mencapai puluhan biji tahu takwa,” imbuhnya.
Terkait pemasaran Suryanto menjelaskan bahwa pihaknya sudah memasarkan produknya lintas Kediri Raya. Tahu dan tempenya dipasarkan tidak hanya dikirim ke wilayah kabupaten namun juga ada yang di kota.
“Saat ini kami hanya pasarkan di Kediri Raya. Baik di Kabupaten maupun kota,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah