Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Panjer, Plosoklaten, Kabupaten Kediri: Warganya Kembangkan Kerajinan Wayang untuk Melestarikan Budaya

Andhika Attar Anindita • Selasa, 18 Juni 2024 | 19:34 WIB

 

KONSISTEN: Subroto memiliki kecintaan dan perhatian khusus terhadap budaya wayang.
KONSISTEN: Subroto memiliki kecintaan dan perhatian khusus terhadap budaya wayang.

JP Radar KEDIRI - Kakek enam cucu ini mengaku tak pernah belajar seni rupa. Dengan imajinasinya, dia bisa menghasilkan ratusan model wayang. Karyanya banyak dipesan dari luar daerah. Seperti Solo, Jogja, atau Surabaya. “Saya tak pernah berhenti membuat wayang sejak dari dulu,” cerita Subroto.

Dia belajar langsung dari Dalang Cipto Andyo yang berasal dari wilayah Ngawi. Saat masih remaja, dia begitu terkesan dengan pewayangan. Hingga akhirnya memberanikan diri belajar membuatnya sendiri saat Dalang Cipto berada di Wates.

Pertemuannya dengan dalang Cipto itu sebenarnya membuat Broto lekat dengan wayang. Bisa dikatakan hidupnya kini untuk wayang. Sebab setelah belajar pertama kali dengan Cipto, dia mampu mengembangkan wayang yang dia ukir sesuai dengan imajinasinya sendiri.

“Tidak pernah belajar, warna wayang itu ada dalam angan-anagan saya,” ucapnya.

Bisa dikatakan warna pewayangannya cukup unik dan modern. Warna merah jambu dan ijo lumut menjadi perpaduan yang pas untuk beberapa wayang yang sudah diciptakan.

Dikatakan Broto, satu wayang yang dia buat bisa laku minimal Rp 200 ribu dan paling tinggi adalah Rp 1 juta. “Satu wayang bisa menghabiskan waktu selama lima hari,” ucapnya.

Baginya, membuat wayang kulit adalah kesenangan. Pekerjaan itu tidak semata-mata untuk mencari uang. Karena itulah, sampai saat ini Subroto tetap mempertahankan hobinya. Dia tetap akan terus membuat wayang. Dari tangan seninya, dia tidak hanya membuat wayang. Tetapi juga melukis.

Ajak Emak-Emak untuk Kembangkan Produksi Cokelat Enak

Di Desa Panjer ada UMKM yang mengembangkan produksi cokelat. Usaha ini dibina oleh emak-emak setempat sejak 2009 silam. Kala itu, mereka mendapat pembinaan dari Pemkab Kediri. Momen tersebut menjadi perkenalan dengan budidaya tanaman cokelat.

Tanaman cokelat itu akhirnya dibudidayakan di pekarangan rumah masing-masing. Baru kemudian diolah sedemikian rupa menjadi jajanan cokelat yang enak. “Untuk produksi, para anggota menunggu adanya pesanan,” ujar Sonah, salah satu anggota kelompok tersebut.

Bukan tanpa alasan kenapa cokelat baru dibuat ketika ada pesanan. Salah satunya karena tidak ingin produk cokelat di sana terbuang sia-sia. Sehingga pembuatan dilakukan ketika ada pesanan saja.

“Sebenarnya peminat cokelat ini cukup banyak dan sudah tersebar luas,” imbuhnya. Mulai dari Kediri Kabupaten, Kota, Nganjuk, Blitar, Tulungagung, dan Jombang. Rencana ke depannya, di depan rumah produksi cokelat akan dibangunkan warung. Sehingga pengunjung dapat menikmati produk olahan cokelat di sana.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #budaya #desa milenial #kediri #plosoklaten #jawa pos #Kerajinan Wayang