JP Radar Kediri - Halaman belakang rumah Sugianto menjadi workshop tempatnya berkarya. Banyak karyanya terpajang rapi. Sebagian merupakan pesanan milik orang.
Salah satu yang sedang dikerjakan adalah ukiran daun pintu. Ukiran ini memiliki banyak karakter. Sehingga membuat pintu akan terlihat lebuh menarik. “Untuk ukiran, ada yang model Majapahit, Jepara, dan Eropa, terang Mohammad Sugianto, pemilik UD Luhur Makmur di Desa Pehkulon, Keca matan Papar.
Yang membedakan iadalah motif bentuk ukiran. Model Majapahit dan Jepara, memiliki banyak motif ulir. Sedangkan dibuat menggunakan kayu jenis jati.
“Dibandingkan dengan kayu mahoni, kayu jati jauh lebih bagus kualitasnya,” imbuhnya.
Namun tidak semua kayu jati memiliki kualitas yang bagus. Karena kayu jati ini memiliki dua jenis. Ada kayu jati yang ditanaman di hutan. Lalu, ada kayu jati yang ditanam di pekarangan rumah warga. Yang membedakan dari dua jenis ini, terletak pada warna kayu. Jika ditanam di hutan, kayu akan berwarna merah. Namun jika di tanaman di pekarangan, warna kayu berwarna putih.
“Tentunya lebih kuat dengan kayu jati dari hutan,” ungkap laki-laki yang sering dipanggil Mohak.
Pintu kayu ukir ini tidak hanya bisa digunakan sebagai pintu rumah. Namun juga dapat digunakan untuk pintu musala atau masjid. Meski terkenal kuat, pintu dari kayu jati ini perlu mendapatkan perawatan. Tak hanya membersihkan pintu dari noda menggunakan lap. Agar terlihat tetap indah. Pintu ukir ini juga perlu dilakukan pengecatan ulang secara berkala.
Kreasikan Sosis dari Ikan Bandeng sebagai Oleh-Oleh Khas
USAHA ini mungkin bisa dikatakan agak berbeda dengan desa-desa lainnya di Kabupaten Kediri. Usaha tersebut dikelola perempuan yang dikenal dengan nama Rodiyah Ainun Hidayah. “Usaha saya ini pembuatan sosis yang terbuat dari bandeng,” cerita Rodiyah.
Rodiyah bercerita bahwa idenya membuat muncul setelah melihat produk sosis selama ini menggu nakan daging ayam dan sapi. Sedangkan olahan daging ikan selama ini hanya diolah menjadi otakotak. Karena ingin berbeda muncullah ide untuk membuat sosis ikan.
“Awal mencoba dulu tidak langsung menggunakan ikan bandeng. Namun menggunakan ikan kutuk,” tuturnya. Karena masih percobaan, tentu ada kendala yang membuatnya harus mencoba berkali-kali. Saat meng gunakan ikan kutuk rupanya hasilnya kurang maksimal.
Tanpa menyerah dia mencoba menggunakan ikan lainnya. Setelah beberapa kali percobaan akhirnya dia pilih ikan bandeng. Salah satunya karena kulit ikan bandeng tidak gampang hancur.
Cara pengolahan sosis bandeng sendiri adalah dengan mengambil isi dagingnya tanpa merusak kulit. Proses ini memakan waktu sekitar dua jam. Kemudian daging digiling sampai halus dan diberi bumbu rahasia. Setelah itu daging yang sudah lembut dimasukkan lagi ke tubuh ikan. Jika sudah, ikan lalu di kukus dan dimasukkan freezer.
Dia mengerjakan pesanan dibantu oleh ibu dan tetangganya. Jika pesanan sedang banyak, dia juga akan meminta lebih banyak tetangga untuk membantu. Awalnya dia hanya memproses 2 kg ikan dalam sehari.
Sosis ikan tersebut dia titipkan di supermarket-supermarket yang ada di Kediri. Namun, setelah dua tahun akhirnya dia memutuskan untuk tidak menitipkan barangnya di toko-toko lagi. Dia memilih melayani pembeli di rumahnya melalui pesanan. Kini dia dapat memproduksi sosis ikan hingga lima kilogam per hari.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah