JP Radar Kediri - Kedelai dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan. Salah satunya tahu dan tempe. Usaha inilah yang digeluti oleh Suminten sejak awal 2000-an silam.
Usaha pembuatan tahu dan tempe banyak ditemukan di Desa Ngreco, Kecamatan Kandat. Salah satu pelakunya adalah Suminten, 58, warga Dusun Bulur. “Saya mulai usaha ini mulai tahun 2000,” jelasnya.
Suminten menjelaskan bahwa kedelai tidak hanya menjadi bahan baku tahu dan tempe saja. Namun juga bisa diolah menjadi susu sari kedelai. Kini sudah 24 tahun, Suminten menggeluti usaha yang diturun kan dari orang tuanya. Dalam satu hari, dia mengolah sekitar 50 kilogram (kg) kedelai.
Suminten masih meng gunakan proses tradisional. Misalnya untuk pengukusan, dia masih menggunakan kompor dengan bahan bakar kayu. Selain dijual ke pasar, tahu dan tempe juga diambil oleh loper yang setiap pagi datang ke rumahnya.
“Untuk harga tempe tergantung kebutuhan pembeli, paling sedikit Rp 1.500,” katanya.
Konsisten Kembangkan Pabrik Kerupuk Cap Layur sejak 1987
Desa Ngreco memiliki beberapa UMKM unggulan. Tak hanya pembuatan tahu dan tempe. Di sini juga terdapat pabrik kerupuk. Tak main-main. Pabrik ini sudah ada sejak 1987 silam.
”Namanya adalah kerupuk cap ikan layur,” ujar Sumiran, pemilik pabrik tersebut.
Dulunya, Sumiran adalah karyawan kantoran. Sayang, tempat kerjanya bangkrut. Hingga dia harus banting kemudi. Beruntung, kala itu dia bertemu dengan kawan yang tepat.
Temannya tersebut memiliki usaha kerupuk di Pare. “Dari teman saya tersebut saya belajar cara mengolah kerupuk,” akunya.
Sumiran belajar selama seminggu penuh. Setelah berhasil membuat kerupuknya sendiri, pria kelahiran 1956 ini langsung nekat produksi. Mulai dari proses pembuatan hingga penjualan pada saat itu dilakukannya sendiri.
“Saya dulu awal berjualan naik sepeda ontel,” kenangnya. Kerupuk jualannya pada saat itu dijual Ke Pasar Setonobetek, Pasar Pahing, dan Pasar Wates. Seiring berjalannya waktu, dia tak lagi keliling menjajakan kerupuknya. Kini sudah ada pelanggan yang mengambilnya di rumah.
Harga kerupuknya Rp 16 ribu per kilogram (kg). Sumiran memproduksi tiap hari. Kecuali hari Minggu. Dia dibantu delapan pekerja. Semua warga sekitar rumahnya. Termasuk dua anak laki-lakinya juga ikut membantu produksi.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah