Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Plosorejo, Gampengrejo, Kabupaten Kediri: Warga Mampu Manfaatkan Limbah Kayu Jati Belanda Menjadi Tas Cantik

Habibaham Anisa Muktiara • Rabu, 12 Juni 2024 | 17:38 WIB
UNIK: Tas kreasi David Aryoko dari limbah kayu palet atau jati Belanda memiliki keunikan tersendiri.
UNIK: Tas kreasi David Aryoko dari limbah kayu palet atau jati Belanda memiliki keunikan tersendiri.

JP Radar Kediri - “Dulu tas berbahan kayu ini hanya digunakan sendiri,” cerita David Aryoko. Saat itu tas buatannya hanya sebatas digunakan oleh istrinya. Namun kreasinya ternyata mencuri banyak perhatian. Hingga banyak yang menanyakan di mana membeli tas kayu tersebut.

Karena banyak yang tertarik, David membuat tas secara massal. Tas kayu ini berbentuk kotak. Berukuran 30 cm, lebar 10 cm, dan tinggi 25 cm. Selain itu, juga ada kreasi dompet kayu dengan ukuran yang lebih kecil.

David menggunakan limbah kayu palet atau jati Belanda sebagai bahan bakunya. Selain warnya yang bagus, kayu tersebut mudah dibentuk dan ringan. Kini tas buatanya sudah dijual dipasaran.

Dalam proses pengerjaan, dia dibantu Retno, istrinya. Retno yang membuat desain tas. Lalu eksekusinya dikerjakan oleh David yang dibantu oleh satu pegawainya.

“Untuk membuat sebuah karya harus selalu memiliki inovasi yang baru. Mengikuti apa yang sedang tren,” ungkapnya. Rumah seninya itu diberi nama Danno Art. Awalnya dia hanya membuat gantungan kunci hingga lukisan siluet wajah.

David tidak hanya menggunakan kayu jati Belanda sebagai bahan baku. Dia juga menggunakan kayu tongkat. Meski berbahan baku kayu, di bagian dalam dan bagian strap tetap menggunakan kain.

Karya David sudah terjual hingga luar kota. Mulai Jakarta hingga Batam. Sampai saat ini, dia menggunakan media online yang sering mengikuti pameran-pameran. Selain itu juga masih ada beberapa temannya yang menawarkan melalui mulut ke mulut.

David menjelaskan, kendala selama melakukan usaha yaitu kurangnya tenaga kerja. Sehingga dia tidak sanggup mengerjakan dengan cepat. 

Belasan Tahun Konsisten Kelola Bisnis Pengolahan Susu Sari Kedelai

Di Desa Plosorejo terdapat sebuah pengolahan susu sari kedelai. Usaha tersebut dikelola oleh Yuanah. Usaha tersebut sudah digelutinya selama belasan tahun. Hingga kini masih berjalan. “Dulu saya membuka usaha ini bersama dengan suami,” kenangnya.

Di tengah perjalanan merintis usaha susu kedelainya, suami Yuanah meninggal pada tahun 2011. Perempuan yang memiliki tiga anak ini dengan tegar tetap melanjutkan usaha tersebut.

Pemasarannya masih mengandalkan cara manual. Yakni dititipkan ke warung, toko-toko, serta menjadi langganan puskesmas. Biasanya untuk pemenuhan gizi balita dan lansia. “Alhamdulillah hingga detik ini tak pernah ada sisa, semua habis,” ucapnya.

Baca Juga: Profil Desa Mojokerep, Plemahan, Kabupaten Kediri: Olahan Bumbu dan Jenang Jadi Produk Andalan

Yuanah mengaku tak ada rahasia di balik bisnisnya. Bahan-bahan yang digunakan alami dan tanpa bahan pengawet. Diantaranya kedelai, air, gula, dan garam. Kedelai diblender bersama air. Lantas disaring dan direbus hingga matang dengan campuran gula dan garam yang pas.

Untuk sekali produksi, Yuanah mengaku menghabiskan kedelai sekitar 2 kg. Dengan jumlah bahan baku tersebut, dia bisa menghasilkan 130 bungkus susu sari kedelai kecil.

Yuanah mengaku bahwa susu sari kedelai miliknya paling ditunggu-tunggu oleh pelanggan. Pasalnya tak ada pesaing di Desa Plosorejo. Terlebih dia memberikan harga yang terjangkau. Satu bungkus kecil sari kedelai hanya seribu rupiah. Sedangkan satu botol berisi 500 ml harganya Rp 5 ribu. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. 

 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#kabupaten kediri #tas #susu kedelai #Desa Plosorejo #Kayu Jati Belanda