KEDIRI, JP Radar Kediri - Suara mesin meraung dari salah satu rumah di Desa Sonorejo, Kecamatan Grogol. Lebih tepatnya dari salah satu gudang. Suara yang berasal dari mesin penggergaji batok kelapa.
“Menggergaji batok untuk membuat cangkir,” terang lelaki yang menjalankan mesin tersebut.
Di tempat itu, tidak hanya pria yang bernama Asnomo tersebut. Juga ada beberapa orang lagi. Namun dengan aktivitas lain. Memungkasi pengerjaan alat penggaruk punggung dari kayu.
Asnomo menghampiri Jawa Pos Radar Kediri. Mengajak berpindah ke ruangan lain, yang berfungsi sebagai galeri. “Di sini terlalu bising,” ucapnya beralasan.
Galeri itu berjarak sekitar 100 meter dari bengkel kerja itu. Bagian depannya berdinding kaca. Demikian pula pintu masuknya, juga dari kaca. Di dalamnya terdapat rak display. Di rak itu terpajang hasil karya sang pemilik. Berupa peralatan dapur berbahan batok kelapa seperti sendok nasi, sendok sayur, mangkuk, dan gelas. Ada pula peralatan pijat manual hingga penggaruk punggung.
Ketika berjalan menuju galeri itu, langkah Asnomo terlihat sedikit pincang.
“Karena penyambung tulang kiri ini diambil dari tulang lutut, jadi tidak sekuat tulang aslinya,” jelas Asnomo, menjawab penasaran penulis.
Setelah itu dia melanjutkan, bahwa sebelum menekuni pembuatan kerajinan ini, dia dulu bekerja di perusahaan kayu yang ada di Sampit, Kalimantan Selatan. Mulai 2000 hingga 2002. Setelah dia mengalami kecelakaan kerja yang menyudahi karirnya. Yang mengakibatkan tulang paha kirinya patah.
Asnomo masih ingat peristiwa kecelakaan itu. Pria lulusan SMK jurusan otomotif mendapat jatah memperbaiki kendaraan yang rusak. Tempatnya jauh di pedalaman, yang harus dicapai dengan kendaraan jip.
Petaka terjadi ketika perjalanan pulang. Sopir pengganti tak mengenal medan dengan baik. Di jalan menurun, rem blong dan tergelincir ke parit. Membuatnya patah tulang kaki dan harus dioperasi. Lima bulan kemudian, dia harus pulang ke Jawa karena kondisi kakinya tak kunjung membaik.
Berada di kampung halaman, dia pun menjalani beragam terapi dan pengobatan. Namun, semuanya tak mampu menjadikan kondisi kakinya bisa seperti semula. Dia harus menggunakan kruk bila berjalan.
Akhirnya, dia pun menjalani operasi di rumah sakit khusus tulang di Solo. “Untuk menyambung tulang, akhirnya menggambil tulang dari lutut,” terang Asnomo.
Usai operasi, kondisi kakinya mulai membaik. Agar bisa berjalan tanpa bantuan penyangga dia harus berlatih setiap hari. Sayang, meskipun bisa berjalan tanpa tongkat, tak dia tak bisa lagi melakukan kerja berat. Karena itu, dia pun menekuni pekerjaan membuat kerajinan tangan. Terutama yang berbahan baku batok kelapa dan kayu. Ilmu yang dia peroleh ketika mengikuti pelatihan di Malang selama dua tahun.
Kenapa memilih batok kelapa? Menurutnya, permintaan kerajinan batok kelapa masih tinggi. Kemudian bahan bakunya juga masih melimpah. Kebetulan, banyak warga desanya yang membuat sambal tumpang yang salah satu bahannya adalah kelapa.
“Batok kelapa yang dibuang ini saya jadikan bahan baku kerajinan seperti ada yang di Malang,” katanya.
Selain mengembangkan kreasi peralatan dapur, ia juga membuat peralatan pijat refleksi. Alat pijat ini berupa kerokan, tusuk sendi, pijat punggung, pinjat gantol hingga pijat refleksi kaki. Kerajinan buatan Asnomo tidak hanya dipasarkan di wilayah Kediri. Namun juga luar kota, seperti Blitar, Jogjakarta, Jember, dan Malang. Bahkan selain menjual sendiri, ia juga menjadi suplier bagi perajin lain. Terutama untuk mengisi stan pameran.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah