JP RADAR KEDIRI-Di Desa Ngletih, Kecamatan Kandat tanaman singkong tumbuh dengan subur. Kemudian dimanfaatkan menjadi sebuah usaha. Hal tersebut dilakukan oleh Siti yang mengolah singkong menjadi keripik.
Bisa dikatakan, perhatian Pemdes Ngletih terhadap kegiatan usaha warganya sangat besar. Salah satunya yang dikembangkan adalah produk keripik singkong. Pelaku usahanya adalah Siti Aisah. Yang mengelola bisnis secara turun-temurun dari keluarga.
“Usaha ini saya tekuni mulai 2002,” cerita Siti saat ditemui di rumahnya.
Kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri, Siti mengatakan meski memulai pada 2002, usahanya baru banyak dikenal pada 2010.
Seiring berjalannya waktu dia tidak hanya memproduksi keripik singkong saja. Namun dikembangkan dengan beberapa bahan lainnya. Mulai dari keripik pisang hingga keripik sukun.
Proses pembuatan pun masih menggunakan alat-alat manual. Untuk proses pemasakan, Siti menggunakan kayu sebagai bahan bakarnya. Bahkan proses pelekatan bungkus masih menggunakan nyala api lilin.
Yang jadi kendala adalah lahan. “Kan kalau menjemur kan memerlukan lahan yang luas, jadi kekurangan lahan itu,” imbuhnya.
Selain menaruh di beberapa toko, Siti juga menerima pesanan. Untuk harga yang dipatok, mulai dari Rp 500 hingga Rp 35 ribu. Dalam satu hari, untuk pembuatan singkong 1,5 hingga dua kuintal. Sedangkan untuk keripik pisang, dalam satu hari bisa menghabiskan bahan dua kilogram. Untuk bahan baku Siti mengaku membeli mentahan bahan di pasar grosir kota kediri.
Pasarkan Krupuk Uyel hingga Malaysia
Tidak hanya terkenal produksi kripiknya, Desa Ngletih, Kecamatan Kandat juga terkenal dengan produksi krupuk. Uniknya meski hanya krupuk uyel namun pemasarannya hingga ke negeri jiran Malaysia.
“Krupuk uyel buatan saya ini sudah pernah dikirim ke Malaysia,” jelas Supri pengusaha krupuk uyel.
Kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri, Supri menjelaskan bahwa usaha krupuk uyel ini meneruskan usaha orang tuanya. Dia juga bisa merekrut warga desa sebagai tenaga kerja. Lebih tepatnya terutama ibu-ibu rumah tangga yang mempunyai waktu luang. Mereka diajari cara mencetak kerupuk uyel yang membutuhkan kemampuan khusus.
Selain pekerja, bahan dasar kerupuk juga diambil dari lahan pertanian warga desa sendiri. Singkong dari petani seluruh Desa Ngletih kemudian disetorkan ke pabrik tepung yang juga masih milik warga desa setempat. Kemudian tepung singkong baru dikirim ke pabrik kerupuk.
“Krupuk ini terbuat asli dari singkong,” imbuhnya.
Karena asli terbuat dari singkong maka terjamin kualitasnya. Lantaran 100 persen menggunakan tepung singkong asli yang juga berasal dari pertanian alami. Bisa dibuktikan pula kerupuk produksi Supri ini bebas dari pemutih.
“Kalau kreceknya cokelat seperti ini berarti tanpa pemutih,” ujarnya sambil menunjukkan krecek produksinya.
Menurut Supri, sebenarnya masih ada satu lagi pengusaha krupuk yang sukses. Yakni kerupuk balung kuwuk milik Warsiah. Bahkan penyanyi terkenal seperti Atiek CB sangat menyukai olahan ketela ini. Karena itu, Indah ingin Warsiah dan lainnya kelak juga bisa mengikuti jejak Supri.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah