JP RADAR KEDIRI-Tak sekadar bikin kue, pelaku UMKM di Desa Kwadungan ini membuat makanan ringan terkenal asal Spanyol. Soal rasa, sangat bersaing dengan produk di toko-toko kue ternama.
Namanya Dini Norma Husia. Salah seorang pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dari Desa Kwadungan, Kecamatan Ngasem. Produk yang dia buat adalah kue tabi.
“Kue ini berasal dari Spanyol,” terang Dini.
Menurut Dini, proses pembuatan kue asal Spanyol ini tergolong unik. Ketika memanggang kue berbahan keju ini memerlukan suhu yang tinggi, hingga 240 derajat celcius. Membuat bagian atas kue akan menghitam. Sesuai dengan namanya, burncheese cake.
Namun jangan khawatir, meski permukaan gosong namun rasanya tidak pahit. Ketika masuk ke mulut, akan merasakan rasa yang creamy. Tekstur creamy dan lembut ini karena kue terbuat dari campuran krim keju, whip cream, gula, telur, dan tepung terigu.
“Untuk penyajian, kue ini memiliki dua ukuran,” imbuhnya.
Kue tabi burncheese cake ini ada ukuran small dan medium. Untuk small diameternya 12 sentimeter. Sedangkan medium diameternya 16 sentimeter.
Cheese cake yang memiliki tekstur padat namun tetap lembut dan super creamy dengan rasa keju yang kuat, ini biasanya dipadukan dengan toping. Salah satunya menggunakan selai coklat.
“Kue ini cocok dimakan dalam keadaan dingin dan semakin enak kalau sudah menginap di kulkas,” kata Dini. Karena ketika dimakan dalam keadaan dingin, membuat kue ini serasa meleleh di mulut. Dan membuat rasa keju semakin terasa.
Dini menambahkan bahwa di wilayah Kediri untuk kue berbahan keju lebih banyak dijumpai dengan bentuk bolu. Sehingga burncheese cake ini tergolong jarang. Karena tidak menggunakan bahan pengawet, kue ini dapat disimpan di kulkas kurang lebih selama lima hari
Resep Madu Mongsonya Turun-temurun
Tidak hanya kuliner modern dari luar negeri, pelaku UMKM. Desa Kwadungan, Kecamatan Ngasem juga memproduksi dan menjual jajanan jadul. Jajanan satu ini dikenal dengan sebutan madu mongso. Usaha ini dikelola oleh perempuan yang dikenal dengan Kusiyana.
“Usaha ini sudah diteruskan secara turun-temurun dari nenek moyang,” jelas Kusyina saat ditemui di rumahnya.
Kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri, Kusyina menjelaskan bahwa usaha madu mongso ini bermula dari tradisi saat Lebaran. Sebelum dipasarkan madu mongso ini hanya dikonsumi keluarga saja. Teman dan tetangga yang mencicipi madu mongso ini banyak yang pesan.
“Seiring berjalannya waktu, pesanan semakin bertambah,” imbuhnya.
Dengan banyaknya pesanan, dia lantas memiliki ide untuk membuka usaha. Kemudian berkembang menjadi lebih besar.
“Kenapa tidak prodaknya ini tidak dipatenkan, dan diberi nama,” kata Kursiyah.
Kusiyana menejelaskan, pada 2015 telah medapatkan izin usaha. Mulai dari Poduksi Industri Rumah Tangga (PIRT), izin merek, lebel halal dan Nutrisi. Namun untuk mendapatkan tersebut, juga memerlukan usaha dan waktu. Salah satunya, dengan perbaikan rasa yang sesuai.
Kini madu mongso, yang dia buat diberi nama Mak’ee. Nama tersebut berasal dari karyawan yang mayoritas sudah emak-emak. Untuk produksi madu mongso sendiri. Dalam satu bulan, total yang dibuat sebanyak 50 Kg. Untuk penjualan sendiri, madu mongso tersebut telah dipasarkan dibeberapa tempat. Yaitu pusat oleh-oleh kediri, Golden Swalayan hingga online.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah