JP RADAR KEDIRI-Tas anyam dari tali kur kini menjadi tren di dunia fashion. Tas ini memiliki berbagai variasi model yang kekinian. Sehingga memikat hati untuk membelinya.
Tidak hanya memiliki banyak warna. Tas anyam ini juga memiliki banyak motif. Mulai dari anyaman simpul dasar, melati, kerang, cherrybelle, joshepine, lilit, dan kalimantan. Setiap motif anyaman memiliki keunikannya sendiri. Dalam satu tas, tidak hanya terdapat satu motif. Namun juga dapat dikombinasikan dengan motif lainnya.
“Untuk tas memiliki banyak sekali ukuran, tergantung dengan permintaan,” terang Jurista Seanita, pemilik Griya Anyam Colection.
Tas anyam yang berproduksi di Desa Kepuhrejo memilki banyak keunggulan. Salah satunya, tali kur yang digunakan memakai bahan yang berkualitas. Ketika terkena air, warnanya tidak lantas luntur. Apabila tas anyam kotor, jangan khawatir karena dapat dicuci.
“Jika menggunakan tali kur yang murah, ketika terkena air maka warnanya akan luntur,” ungkapnya.
Agar terlihat mewah, tas ini memiliki tambahan hiasan. Seperti korsase yang juga terbuat dari tali kur. Bentuknya seperti bunga hingga pita. Harga tas anyam ini, disesuaikan dengan ukuran. Untuk tas dengan ukuran 22x21 sentimeter dijual dengan harga Rp 200 ribu. Sedangkan untuk ukuran 25x21 sentimeter dijual dengan harga Rp 175 ribu. '
Produksi Cetakan Roti Laris Manis Terjual hingga Luar Kota
Usaha pembuatan cetakan roti ini digeluti oleh Nolik. Dia sudah belasan tahun bergelut dengan usaha tersebut. “Usaha produksi cetak kue ini sudah berjalan sekitar tahun 2005,” jelasnya.
Jika dihitung kini usaha produksi cetak rotinya sudah berusia 19 tahun. Dengan usia tersebut, kiprahnya tak bisa disepelekan. Bahkan, cetakan roti buatannya ini laris manis terjual hingga ke luar kota. “Dikirim ke Surabaya hingga ke Bandung,” terangnya.
Nolik menjelaskan bahwa usahanya ini dibantu oleh 12 karyawan. Setiap karyawan ini memiliki job desk masing-masing. Tidak hanya karyawan tetap, dia juga menerima hasil buatan warga sekitar. Terutama ibu-ibu. Ada sekitar delapan orang yang rutin mengambil bahan darinya. Bahan tersebut kemudian dibuat cetakan roti secara mandiri di rumah masing-masing.
“Jadi mengerjakannya sesuka mereka, tidak ada target. Upah diberikan berdasarkan jumlah cetakan yang disetorkan,” kata Nolik. Hebatnya, dia sudah bekerjasama dengan perusahaan yang ada di Surabaya dan Bandung. Sehingga pengiriman dilakukan secara berkala.
Tidak hanya itu, setiap harinya ada sales-sales yang datang untuk membeli barangnya. Lalu, itu semua dijual kembali. Alhasil, Nolik merasa tidak kesulitan dalam menjual hasil produksinya. “Harapannya bisa semakin berkembang sehingga semakin banyak warga yang bisa diberdayakan,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah