JP RADAR KEDIRI-Usaha olahan snack dan minuman berbahan kurma ini digeluti oleh Siren Yanita. Di tangan perempuan Desa Bangsongan ini, kurma disulap menjadi minuman segar dan cookies lezat. “Bahan yang saya gunakan adalah susu sapi segar dan kurma premium pilihan,” ujarnya.
Selain itu, dia juga menggunakan coklat premium standar belgium. Siren mengaku tertarik mengolah kurma karena ingin mengenalkan manfaat buah tersebut. Selama ini masyarakat kebanyakan hanya mengonsumsi kurma ketika bulan Ramadan. Di luar itu relatif jarang.
Dari situ dia berinisiatif untuk mengembangkan kurma menjadi produk olahan makanan. Produk ini dapat menjadi daily menu masyarakat Indonesia. Tak terkecuali masyarakat Kediri. Olahannya yaitu kurma coklat, susu kurma, dan yang terakhir cookies kurma.
Terkait ketahan tergantung dengan produk. Susu kurma dalam suhu ruangan akan tahan 3-5 jam. Ketika dimasukan didalam kulkas, akan tahan 24-36 jam. Tetapi jika dimasukan dalam freezer dapat tahan mulai 3-5 hari.
“Kalau coklat kurma bisa tahan tiga-lima bulan. Sedangkan cookies bisa sampai dua hingga tiga bulan,” kata Siren. Untuk harga, susu kurma dijual mulai Rp 15 ribu hingga Rp 50 ribu. Kurma coklat Rp 40 ribu hingga Rp 95 ribu. Sedangkan cookies dijual dengan harga Rp 18 ribu hingga Rp 55 ribu.
Modal Belajar Otodidak, Raup Cuan dari Jualan Roti Wijen
Kuliner di Desa Bangsongan terbilang beragam. Selain olahan kurma, ada pula usaha roti wijen yang digeluti Luthfi. Usaha ini telah lama digelutinya. Berkat kegigihannya, dia bisa meraup cuan dari hasil berjualan.
Menurutnya, proses pembuatan roti ini tidaklah sulit. Bahkan cenderung mudah. Karena itu pula Luthfi tertarik mencoba memproduksinya secara massal. "Mulai memberanikan diri berjualan," ujarnya.
Padahal, dia hanya bermodal belajar secara otodidak. Awalnya memang tidak langsung mendapat banyak pembeli. Namun dia terus berusaha sembari meningkatkan kualitas rasanya.
Pria 43 tahun ini terus memperbarui resep roti wijennya agar dapat diterima di lidah pembeli. Setelah menemukan resep yang pas, roti buatannya mulai laku keras. "Dalam satu hari sekarang pesanan sampai ribuan," ungkapnya.
Saat berproduksi, Luthfi dibantu oleh pekerjanya. Hebatnya, pekerja di tempatnya tidak hanya satu-dua saja. Bahkan, mencapai belasan orang. Itu juga bagian dari upayanya untuk membuka lapangan kerja.
Selama ini, pria asli Kertosono ini pernah mengikuti pelatihan-pelatihan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri. Sehingga dirinya paham bahan apa saja yang boleh digunakan dan tidak. “Misalkan seperti pengawet buatan. Kalau produk kita kan pakai gula jadi cukup awet,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah