Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Wonokerto, Plemahan, Kabupaten Kediri: Melihat Kreativitas dan Tradisi Warga yang Masih Terjaga

Habibaham Anisa Muktiara • Selasa, 4 Juni 2024 | 20:09 WIB

 

Photo
Photo

JP RADAR KEDIRI-Siapa yang menyangka jika kantong plastik atau kresek bekas masih memiliki manfaat. Setelah tidak digunakan lagi, tas kresek dapat digunakan sebagai bahan kerajinan tangan. Seperti yang dilakukan oleh Sulastri Ningsih. Dia menyulap lembaran kresek ini menjadi kerajinan bunga yang cantik.

“Semula anak saya yang masih kecil mengikuti karnaval. Saya buatkan buket bunga yang bahannya dari tas kresek,” terang perempuan asal Dusun Jabon, Desa Wonokerto, Kecamatan Plemahan tersebut.

Tas kresek tersebut tidak hanya dibuat sebagai bunga saja. Namun juga di sulap menjadi topi. Selain dibuat dari tas kresek bekas, dia juga memanfaatkan wadah plastik yang sudah tidak terpakai. “Kantong kresek yang digunakan biasanya kantong kresek bekas belanja,” ucapnya.

Sulastri menjelaskan, kantong kresek yang kotor memerlukan proses yang lebih lama. Pasalnya harus dicuci. Setelah dicuci lalu dijemur. Kresek yang sudah dalam keadaan kering baru dapat diproses menjadi bunga.

“Agar bunga seperti yang dijual dipasaran, tas kreseknya disetrika,” ungkap Sulastri.

Sulastri sebenarnya sudah lama menggeluti usaha tersebut. Hanya saja, pemasarannya tidak semudah saat ini. Kini dia dapat memamerkan karyanya lewat media sosial (medsos). Dengan cara ini, rupanya banyak yang tertarik dengan bunga kresek buatannya.

Karena banyak yang tertarik, ia pun menjadikan kerajinan tersebut sebagai sebuah usaha. Sifat bahan kantong plastik yang tipis, lentur, transparan, serta berwarna-warni cocok untuk dijadikan kerajinan tangan. Utamanya bunga.

“Untuk pembuatan, dibandingkan dengan daun pembuatan bunga jauh lebih memerlukan banyak detail,” jelas Sulastri.

 

Rutin Gelar Upacara Bersih Desa sebagai Tradisi Warisan Leluhur

Beberapa desa di Kabupaten Kediri memiliki berbegai caranya sendiri untuk menghormati leluhur. Seperti halnya di Desa Wonokerto, Kecamatan Plemahan. Untuk menghormati leluhurnya pemerintah desa dan warga setempat mengadakan kegiatan bersih desa. "Bersih desa ini sudah menjadi agenda tahunan," jelas Kepala Desa Wonokerto, Kecamatan Plemahan Jimi Santoso.

Jimi menjelaskan bahwa bersih desa dilakukan setiap satu tahun sekali. Lebih tepatnya setiap Kamis Legi atau Jumat Pahing. Ritual ini sudah dilakukan turun-temurun dari kepala desa pertama yang menjabat sejak tahun 1887 sampai saat ini. "Kegitan ini sudah dilakukan secara turun temurun, tujuannya untuk mengingat jerih payah leluhur yang berjasa atas Desa Wonokerto," ucapnya.

Jimi menjelaskan rangkaian bersih desa dimulai dengan berkumpul di rumah kepala desa. Seluruh perangkat desa memakai baju adat Jawa. Mereka bersama warga lantas berjalan kaki bersama-sama menuju sebuah punden.

Lokasi punden tersebut berada di Dusun Jambean. Dari kantor desa, jaraknya sekitar 800 meter. Oleh masyarakat desa, punden tersebut dipercaya sebagai sebuah petilasan atau tempat muksa dari Eyang Danurejo. Eyang Danurrejo ini adalah leluhur Desa Wonokerto. Dalam istilah Jawanya disebut dengan babat alas.

“Di punden tersebut ada dua pohon beringin berusia kurang lebih 15 tahun yang merindangi sebongkah batu besar," kata Jimi. Dia mengatakan, batu tersebut dipercaya sebagai petilasan Eyang Danurejo.

Setelah acara bersih desa, keesokan harinya selalu diadakan hiburan warga. Hiburan tersebut antara lain tayub, jaranan, dll. Namun, acara ini hanya bisa dilakukan di Dusun Mojoroto. Karena di dusun lain memang ada larangannya. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #desa milenial #kediri #umkm #jawapos #desa #warisan leluhur