JP Radar Kediri - Memiliki tekstur kenyal dan rasa yang manis membuat mochi jadi kudapan lezat. Makanan ini banyak disukai masyarakat Indonesia. Tak terkecuali di Kediri.
Dulu, kue mochi sangat identik dengan rasa kacang tanah. Namun, kini memiliki berbagai varian rasa. Seiring dengan berkembangnya zaman. “Kalau anak muda lebih suka yang isi coklat atau keju,” ujar Sundana, produsen kue mochi asal Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo.
Selain terdapat rasa cokelat, juga ada selai nanas. Tidak hanya kaya dengan isian. Namun juga kaya dengan topping. Mulai dari abon, wijen, oreo, kelapa, hingga tepung sangrai. Jika isian kacang, biasanya dipadukan dengan topping wijen, abon, atau tepung sangrai. Sedangkan untuk cokelat, topingnya adalah oreo yang sudah dihaluskan.
“Untuk membedakan rasa ada warnanya sendiri-sendiri,” kata perempuan berusia 36 tahun ini. Warna merah muda untuk rasa keju. Warna coklat untuk rasa cokelat. Lalu kuning untuk nanas dan biru untuk isi kacang. Warna–warna tersebut dibuat menggunakan pewarna makanan.
Mochi ini diproduksi setiap hari. Sehingga kue ini selalu dalam keadaan segar. Bahkan untuk menjaga kualitas, dia juga membuatnya sendiri. Seperti isian selai nanas dan kacang. Selai nanas ini dibuat setiap tiga hari. Sedangkan untuk isian kacang dibuat setiap hari. Terbuat dari bahan-bahan segar, membuat makanan manis ini cocok untuk dikonsumsi oleh semua usia.
Kreasikan Sayuran Jadi Olahan Keripik dengan Cita Rasa Unik.
Binti Latifah banyak dikenal karena kreasi keripik sayuran buatannya. Usaha tersebut telah lama digelutinya. Tak ayal, izin pun telah dikantongi.
Latifah menjelaskan bahwa usahanya ini dibantu oleh sang ibu. Usaha pembuatan keripik ini dilakukan di rumahnya. Mereka menjual dalam bentuk kemasan. Keripik tersebut selain dipasarkan dari mulut ke mulut juga dipasarkan secara online.
“Untuk sementara, untuk pembuatan hanya ketika ada pesanan,” jelas Latifah.
Meski sudah lama menggeluti usaha tersebut, tetap ada tantangan yang dirasakan. Tak hanya terkendala masalah tenaga kerja. Latifah juga kesulitan dalam pemasaran. Ini disebabkan karena keripik butannya tidak mengandung bahan pengawet. “Karena tidak menggunakan pengawet jadi tidak bisa bertahan lama,” akunya.
Untuk produk yang diberi nama Istiqomah dijual seharga Rp 5 ribu dalam setiap kemasan dengan berat 50 gram. Untuk bahan baku yang digunakan Latifah menggunakan sayuran yang dia tanam sendiri. Agar menjaga kualitas, dia menggunakan minyak dari kelapa.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah