Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Gadungan, Puncu, Kabupaten Kediri: Melihat Perpaduan Kreativitas dan Tradisi Warga Desa

Habibaham Anisa Muktiara • Senin, 3 Juni 2024 | 18:44 WIB
CANTIK: Rompi bordir buatan Sri Zainudin dari Putri Woso Mandiri memiliki motif yang indah.
CANTIK: Rompi bordir buatan Sri Zainudin dari Putri Woso Mandiri memiliki motif yang indah.

JP Radar Kediri - Teknik bordir biasanya digunakan untuk menambah keindahan sebuah pakaian. Seperti yang dilakukan oleh Sri Zainudin. Dia berkreasi dengan membuat rompi bordir.

“Semula saya membuat untuk dikenakan sendiri. Rupanya banyak orang yang tertarik,” terang Sri Zainudin, pemilik Putri Woso Mandiri. Karena banyak yang tertarik, dia mulai memproduksi rompi bordir. Rompi buatannya memiliki dua versi. Ada yang polos. Ada juga yang bewarna. Sedangkan untuk bentuk rompi, mirip dengan rompi dengan teknik rajut.

Dalam pembuatannya, dia dibantu oleh pekerja. Untuk pembuatan pola dan penyolderan dilakukan olehnya. Sedangkan untuk bagian membordir, dilakukan pekerjanya. Sebelum mengembangkan rompi bordir, dia terlebih dulu membuat mukena dan taplak meja.

“Dulu awalnya bikin taplak meja makan, dan mukena,” imbuhnya. Rompi bordir kreasinya sukses menjadi produk unggulan. Karena proses pembuatan yang lama, dia membuat stok rompi bordir. Sehingga ketika ada yang mencari, barang sudah ada. Karena rompi ini juga, dia sekarang menjadi mitra Bank Indonesia (BI).

Menurut Sri, bordir memiliki sebuah kelebihan. Bordir menjadikan baju lebih indah dan elegan. Selain membuat mukena dan rompi bordir, Putri Woso juga membuka jasa mendesain produk bordir dan sulaman. Untuk desain, dapat disesuaikan dengan pesanan.

Buat kalian yang tertarik dengan produk buatan Putri Woso bisa langsung kontak saja. Untuk rompi bordir, dijual mulai dari harga Rp 400 ribu hingga Rp 600 ribu. Sedangkan untuk mukenah dijual mulai dari harga Rp 150 ribu hingga Rp 350 ribu. 

Rutin Gelar Bersih Desa untuk Menghormati Tradisi dan Leluhur.

Desa Gadungan tidak hanya kaya akan kreativitas warganya. Desa ini juga kaya akan sejarah dan cerita leluhur. Bak gayung bersambut. Pemdes dan warga Gadungan juga kompak dalam menjaga tradisi dan budaya tersebut. Seperti salah satunya tradisi bersih desa.

Bersih desa merupakan tradisi selamatan yang telah digelar secara turun-temurun. "Untuk menghormati leluhur, pemerintah dan warga Desa Gadungan setiap satu tahun sekali mengadakan bersih desa," jelas Kepala Desa Gadungan, Kecamatan Puncu Dari Purwanto.

Purwanto menjelaskan bahwa kegiatan bersih desa ini berupa kegiatan doa bersama. Utamanya adalah selamatan. Namun di luar itu juga untuk menghormati dan mengenang leluhur desa. Mengingat Desa Gadungan memiliki segudang sejarah. Seperti legenda Dewi Soetiyem dan Djoko Begadung.

Sampai saat ini masyarakat Desa Gadungan masih menghormati leluhurnya. Setiap bersih desa mereka mengadakan selamatan dan berziarah ke pemakaman keluarga Kedud. Biasa dikenal sampai sekarang Punden Bah Kud (Bakud).

Selesai dari Punden Bakud dilanjutkan ke Punden Sumber Bedji. Di sini, ada sebuah momen sakral. Yakni dikeluarkannya Pusaka Bondan yang memiliki sejarah panjang. "Ini juga upaya kami untuk merawat tradisi dan budaya desa," tandas Purwanto. 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. 

 

 

 
Editor : Anwar Bahar Basalamah
#kabupaten kediri #pakaian #rajut #Milineal #desa #puncu