JP RADAR KEDIRI-Seserahan atau mahar tak pernah ketinggalan dalam pesta pernikahan. Tak ayal, usaha hias seserahan mulai banyak dilirik orang. Peluang ini yang ditangkap oleh Najib dan Vivi.
“Usaha pembuatan mahar ini sudah berjalan sejak tahun 2015,” terang Choirun Najib. Dia menggeluti usaha ini bersama dengan Vivi Avita, 25, istrinya. Sebelum membuka usaha menghias mahar, dia membuka usaha percetakan undangan.
Dulu, pelanggannya banyak yang bertanya kenapa tidak sekalian membuat mahar dan seserahan. Dari situ dia akhirnya tertarik mencoba. Akhirnya, Najib belajar dari teman yang tergabung dalam komunitas pembuat mahar.
“Untuk dasar saya diajarkan, namun setelah itu saya kembangkan sendiri,” imbuhnya.
Baca Juga: Inilah Klub Pesepeda RSUD Gambiran, Spesialis Touring Malam Hari Lintasi Hutan
Salah satu yang membedakan mahar buatannya terletak pada kualitas. Mahar buatannya ada yang model tiga dimensi, quilling, hingga akrilik. Selain menggunakan uang, dja juga mengombinasikan dengan bunga imitasi dan bunga dikeringkan.
Dalam pembuatan mahar, Najib tidak menggunakan uang asli. Karena penggunaan uang asli tidak diperbolehkan. Alhasil, dia menggunakan uang kertas mainan.
“Selain mirip yang asli juga dapat dengan mudah dilipat atau dibentuk,” kata Najib. Uang tersebut dikreasikan menjadi berbagai bentuk. Seperti bunga, wayang, hingga bentuk monumen. Agar terlihat indah, dia juga menambahkan lampu pada mahar buatannya. Mahar buatan Najib dijual dengan harga mulai Rp 225.000 hingga Rp 1.000.000.
Ingin Usaha Pembenihan Melon Dapat Menginspirasi Petani Lainnya
Mayoritas warga Desa Senden merupakan petani. Hanya saja belum ada banyak terobosan di bidang pertanian. Padahal sering kali hasil panen hanya cukup untuk menutup biaya produksi. Oleh karena itu Sudi Nur Rahayu, ketua kelompok tani Sumber Rejeki, berusaha mengembangkan tanaman baru. Yakni pembenihan melon.
Menurutnya, padi maupun jagung yang sebagian besar ditanam warga masih belum cukup menguntungkan baginya.
"Tapi memang harus rela keluar banyak untuk green house," terangnya.
Baca Juga: Profil Desa Asmorobangun, Puncu, Kabupaten Kediri: Desa Ini Kaya dengan Hasil Bumi dan Tradisi
Pembenihan melon tersebut baru dimulai tahun 2015 lalu. Dari hasil panen benih, dia bisa mendapatkan Rp 5 juta masing-masing green house. Sedangkan total green house miliknya ada 3 unit. Sehingga setiap panen bisa mendapatkan Rp 15 juta.
"Satu tahun bisa panen sampai 4 kali," ungkapnya. Dia mengaku tidak mudah untuk mengajak warga beralih begitu saja. Oleh karena itu, dia hanya bisa memberi contoh. Jika ada warga yang tertarik bisa ikut melakukan budidaya. "Harapannya bisa menginspirasi sehingga petani di sini bisa lebih terangkat perekonomiannya," tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah