Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Inilah Klub Pesepeda RSUD Gambiran, Spesialis Touring Malam Hari Lintasi Hutan

Ayu Ismawati • Senin, 27 Mei 2024 | 18:55 WIB

MENANTANG: Anggota Klub Pesepeda Pergalau RSUD Gambiran bersiap melakukan riding selepas Maghrib.  Mereka memilih rute di pegunungan untuk memacu adrenalin di malam hari.
MENANTANG: Anggota Klub Pesepeda Pergalau RSUD Gambiran bersiap melakukan riding selepas Maghrib. Mereka memilih rute di pegunungan untuk memacu adrenalin di malam hari.

KEDIRI, JP Radar Kediri - “Ayo! Jumping-jumping.” Begitu teriakan anak-anak perkampungan setempat. Teriakan itu diarahkan pada sekelompok pesepeda yang melintas di desa mereka. Bagi anak-anak di lereng Gunung Kelud itu, rombongan pesepeda Gigih dan kawan-kawannya itu jadi tontonan gratis. 

Sorak-sorai dari warga setempat itu juga sekaligus jadi suntikan semangat bagi Gigih dan kawan-kawannya. Setidaknya sudah tiga tahun ia dan beberapa pegawai RSUD Gambiran menggeluti hobi ekstrem itu. Bersepeda menuruni gunung atau downhill di tengah belantara hutan. Gunung Kelud menjadi lokasi yang paling sering mereka datangi. Tak hanya bersepeda menuruni lereng gunung di tengah hutan saja. Hobi itu juga mereka jalani di malam hari.   

“Saya dulu kan di IGD (instalasi gawat darurat, Red). Saya bilang ke teman-teman, ini refreshing saja. Akhirnya kebiasaan sepedaan. Awalnya juga masih sepedahan di jalan lurus biasa,” kata Gigih Budi Arto, salah satu anggota perkumpulan tersebut. 

Lambat laun, para pekerja IGD itupun kian tersebar untuk ditugaskan di ruang-ruang lainnya. Namun begitu, mereka tetap disatukan dengan hobi bersepeda. Hingga akhirnya kini menggeluti sepeda downhill yang hampir rutin dilakukan setiap Jumat malam. 

Anggotanya pun beragam. Mulai dari perawat, petugas keamanan, pekerja kebersihan rumah sakit, hingga para dokter yang juga sekali dua kali ikut bergabung. 

Kenapa harus malam hari? Perubahan jam pelayanan-lah yang membuat mereka ikut mengubah jadwal bersepeda di gunung. Tak ingin hobi mereka sampai mengganggu tugas utama sebagai nakes, mereka memilih bersepeda downhill di tengah hutan pada malam hari.

“Prinsip kita, jangan sampai mengganggu pekerjaan atau pelayanan di rumah sakit,” kata pria 49 tahun itu. 

Namun siapa sangka, keputusan yang awalnya karena terpaksa itu justru lebih menantang. Perkumpulan dengan anggota 7-8 orang itupun ketagihan menguji adrenalin mereka dengan bersepeda di lereng gunung pada malam hari. Dengan menempuh rute sempit dan berbatu khas lereng gunung, rute yang mereka tempuh berkisar 25 – 30 kilometer. 

“Yang pertama, asyik. Karena menyenangkan bisa berada di tengah alam. Yang kedua juga bisa berkumpul dengan teman-teman itu adalah kekuatan bagi kami,” lanjutnya. 

Gunung Kelud jadi salah satu lokasi yang sering kali mereka datangi. Di sana, ada banyak rute yang bisa dieksplorasi. Meski tetap di kawasan lereng Gunung Kelud, namun bagi mereka selalu ada hal baru di setiap perjalanan menantang itu. 

“Meskipun terkadang jalurnya sama, tapi nggak pernah bosan. Karena di alam, jadi kondisinya itu pasti berubah. Kadang surprise juga. Kemarin jalannya masih lurus, sekarang tiba-tiba ada batu-batu besarnya,” sambung Mario Ade Candra, anggota lainnya. 

Menjalani hobi ekstrem itu tentu juga membawa risiko yang besar. Tak jarang mereka terjatuh saat melewati medan yang sulit. Atau lebih parahnya, sepeda rusak di tengah hutan. 

“Jatuh ya sering. Harus diketawain dulu sebelum ditolongin. Lebih bagus kalau bisa masuk kamera HP dulu,” ujar pria 39 tahun itu sembari tertawa. 

Padahal untuk menjalani hobi itu, sepeda dengan karakteristik khusus yang dilengkapi dengan suspensi sudah mereka gunakan. Namun tetap saja, tidak ada yang bisa menduga saat kesialan melanda. 

“Pernah ada yang gear-nya patah, sampai rantai sepeda putus. Kalau sudah seperti itu, biasanya kita tarik pakai tali kalau waktu jalannya naik,” sambungnya. 

Perjalanan di tengan hutan itu mereka tempuh dalam waktu sekitar lima jam. Loading sepeda dilakukan di sore hari. Baru saat hari berangsur gelap, mereka mulai menggoes menuruni gunung di tengah gelapnya hutan. 

Hanya lampu sorot di sepeda yang menerangi perjalanan mereka. Sesekali mereka bersenda gurau untuk memecah sepinya hutan. Gubuk di tengah hutan tempat petani biasa beristirahat juga jadi tempat mereka rehat. Segelas kopi yang dimasak dengan api unggun jadi teman para sahabat itu untuk bercengkerama sembari melepas lelah. 

“Pernah ada kejadian lucu, kami diteriaki warga setempat waktu mau naik gunung. Katanya, Mas jalannya itu jelek. Yang bisa dilewati di sebelah sana. Padahal semakin sulit jalannya, justru itu yang kami cari,” candanya. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. 

 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #olahraga #kediri #RSUD Gambiran #malam hari #bersepeda #jawa pos