Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Tunge, Wates, Kabupaten Kediri: Warganya Konsisten Kembangkan Unit Usaha Peternakan Domba

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 27 Mei 2024 | 18:42 WIB

Usaha peternakan domba mempunyai prospek bisnis menggiurkan.
Usaha peternakan domba mempunyai prospek bisnis menggiurkan.

JP RADAR KEDIRI-Usaha peternakan domba memiliki prospek bisnis yang menjanjikan. Seperti apa yang digeluti oleh warga Desa Tunge ini.

“Saya mulai berternak saat awal 2014. Setelah Gunung Kelud meletus,” cerita Andi Setyawan, peternak domba Agro Mandiri. Rumahnya yang berada tidak jauh dari gunung ini terkena letupan abu vulkanik. Kolam lelenya rusak. Bahkan membuatnya mengalami kerugian hingga Rp 70 juta.

Pria 32 tahun ini bangkit dari keterpurukan. Namun dia beralih beternak domba. Salah satunya karena dia tidak harus mencari rumput. Dengan pakan olahannya tersebut target pertumbuhan dapat terkendali.

Peternak yang hanya mengandalkan hasil ngarit kebanyakan hanya mampu mencari pakan maksimal 20 ekor. Namun ditempatnya, satu orang ini mampu memberikan pakan hingga 200 ekor. Hal tersebut disebabkan oleh efisiensi waktu untuk mencari pakan.

Berjalan selama empat tahun, dia tanpa saingan. Namun pada tahun 2017, pemain serupa semakin banyak. Domba yang dia pelihara ini dengan cepat panen. Waktu pembesaran selama dua-tiga bulan. Hanya saja, dengan modal yang sama permintaan mengalami penurunan.

Baca Juga: Profil Desa Asmorobangun, Puncu, Kabupaten Kediri: Desa Ini Kaya dengan Hasil Bumi dan Tradisi

“Pada tahun 2018 yang dulu saya penjual pedaging dengan membeli bakalan untuk digemukan. Kini hanya membeli indukan,” ungkap Andi.

Dulu kotoran domba diberikan ke petani. Dengan berjalannya waktu, kotoran domba ini diolah menjadi pupuk. Hasil dari pupuk tersebut kemudian ada yang dijual. Mayoritas perternak hanya menjual hewannya saja. Namun, dia menjual semua yang dihasilkan dari ternak tersebut. Mulai dari daging, susu, bulu, anak, hingga kotorannya. 

“Karena jika menunggu anak keluar ini membutuhkan waktu selama enam bulan. Dan itu membutuhkan waktu yang lama untuk dapat menjualnnya,” imbuhnya. Hal tersebut berbeda dengan kotoran domba yang setiap hari ada. Akhirnya Andi juga memfokuskan pada pengelolaan kotoran domba menjadi pupuk. 

 Baca Juga: Profil Desa Doko, Ngasem, Kabupaten Kediri: Punya Tradisi Bersih Desa yang Bertahan hingga Kini

Maksimalkan Sumber Jambu untuk Sarana Mengairi Sawah

 

Lokasi Sumber Jambu sangat mudah dijangkau. Sebab berada di seberang jalan desa. “Ini namanya adalah Sumber Jambu,” jelas Siti Kholifah, salah satu pedagang di area sumber.

Kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri, Siti menjelaskan bahwa Sumber Jambu sudah ada sejak dulu. Bahkan saat dirinya masih kecil. Hanya saja kondisinya tidak seperti saat ini yang mulai ada perkembangan.

“Dulu hanya berupa sumber saja, tapi sekarang sudah ada tempat parkir, penjual makanan, dan tempat untuk duduk-duduk,” tuturnya.

Perubahan tidak hanya pada pengembangan lokasi, namun juga pemanfatannya. Zaman dahulu tidak semua rumah memiliki kamar mandi. Sehingga sumber tersebut digunakan untuk mandi. Namun sekarang tidak lagi. 

Baca Juga: Profil Desa Puhsarang, Semen, Kabupaten Kediri: Melihat Geliat UMKM dan Wisata Religi

Sumber Jambu memiliki luas kolam sekitar 20x30 meter. Sumber ini masih banyak dikelilingi pepohanan. Hal tersebut membuat suasana terasa sejuk.

Menurut Siti, air di Sumber Jambu tidak pernah surut. Hanya saja di musim kemarau debit airnya tidak sederas saat musim hujan. Meski begitu airnya masih bisa digunakan untuk mengairi sawah warga.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#sawah #radar kediri #pengairan #mengelola #domba #peternak #kelud #jawa pos