Tanaman porang tengah banyak menjadi sorotan. Jenis tanaman penghasil umbi ini memiliki harga jual yang sangat tinggi.
Fransiskus Xaverius Sigit Priono adalah salah pembudidaya tanaman porang di Desa Asmorobangun. “Porang ini adalah jenis tanaman investasi. Karena setelah panen pertama di musim ketiga akan terdapat katak dan umbi,” terang pria yang akrab dipanggil Sigit itu.
Sigit menjelaskan adanya katak dan umbi membuat penanam porang tidak perlu bibit baru. Tanaman porang mengalami pertumbuhan selama lima hingga tujuh bulan setiap tahunnya. Terutama pada musim hujan. Setelah memasuki musim ketujuh, tanaman mengalami masa istirahat.
Di Fase ini daun akan layu sehingga tampak seolah-olah mati. “Padas daun sudah mulai layu menandakan akan mulai panen,” terangnya.
Baca Juga: Profil Desa Doko, Ngasem, Kabupaten Kediri: Punya Tradisi Bersih Desa yang Bertahan hingga Kini
Meski tidak sulit perawatannya, porang memerlukan banyak persiapan. Salah satunya adalah memilih lokasi. Untuk menanam porang, usahakan lahan subur dan gembur. Kondisi tanahnya tidak tergenang air. Terutama ketika fase pertumbuhan.
Selain itu akan lebih baik jika kadar PH tanah sekitar enam atau tujuh.
Setelah pengolahan lahan, kemudian berlanjut pada pemilihan benih. “Benih porang bisa didapat dari katak, umbi, atau biji dari kultur jaringan,” kata Sigit.
Katak yang dijadikan benih bisa dengan ukuran kecil atau besar. Hanya saja usahakan yang digunakan katak yang sudah panen. Karena nanti akan berpengaruh dalam pertumbuhan. Jika menggunakan katak yang belum panen, nanti akan cepat busuk.
Baca Juga: Profil Desa Puhsarang, Semen, Kabupaten Kediri: Melihat Geliat UMKM dan Wisata Religi
Sigit mengatakan bahwa waktu tanam porang harus tepat. Yaitu memasuki musim hujan. Selain tergantung musim, namun juga kondisi air di tempat penanaman. Setelah memulai proses penanaman, kemudian beralih ke proses pemeliharaan.
“Tanaman porang rentang terhadap genangan air dan kekeringan,” ungkap Sigit. Sehingga tanaman porang tidak boleh mengalami kekeringan. Hingga pemberian air tiga atau empat hari sekali.
Seperti tanaman pada umumnya, porang juga perlu diberi pupuk. Pemupukan dapat dilakukan pertama kali penanaman, dan ketika tunas mulai tumbuh. Usahakan pupuk yang dipakai adalah organik, karena agar tidak mudah terjadi serangan hama dan penyakit.
Angkat Cerita Rakyat, Tuangkan Jadi Motif Batik Cantik
Desa Asmorobangun juga terkenal oleh kerajinan batiknya. Usaha kerajinan batik tersebut digeluti oleh Riris Setianingsih. “Batik yang saya buat ini mengangkat cerita budaya di Kabupaten Kediri,” terangnya.
Baca Juga: Profil Desa Plaosan, Wates, Kabupaten Kediri: Mengintip Kreativitas Warga yang Menjadi Perajin Bunga
Riris menceritakan bahwa sosok Dewi Sekartaji adalah salah satu motif batiknya. Itu salah satu caranya agar budaya di Kabupaten Kediri dikenal oleh anak muda.
Perempuan berusia 32 tahun ini mengatakan baru belajar membatik pada tahun 2019. Saat itu, Riris belajar membatik karena saran dari teman yang mengetahui hobi menggambarnya. Karena berbakat menggambar, dia tidak membutuhkan waktu yang lama belajar membatik. Dia hanya belajar selama dua minggu.
“Karena saya suka menggambar, saya hampir diangkat menjadi desainer di Batik Kirana,” kata istri dari Ahmad Jazuli itu.
Batik Kirana adalah tempat Riris belajar membatik. Namun ia memilih mengembangkan batik miliknya sendiri. Batik buatannya menggambarkan tentang budaya di Kabupaten Kediri. Selain Dewi Sekartaji. Dia juga membuat batik dengan motif kuda lumping, dan wayang. Untuk motif batik kuda lumping, digambarkan dengan sosok perempuan yang memainkan.
“Jadi ini menggambarkan sosok perempuan yang tangguh,” ungkap Riris.
Dalam membuat batik, Riris mengajak ibu-ibu rumah tangga yang berada di desanya. Namun untuk mengajak belajar membatik tidak mudah. Karena saat ini dia hanya berhasil mengajak empat orang saja. Kebanyakan mereka bekerja di ladang atau sawah.
Bekerja dengan ibu-ibu memang butuh kesabaran. Karena masing-masing memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang dapat cepat. Ada yang relatif lambat. Namun hal tersebut tidak membuat perempuan kelahiran 1992 itu lantas menyerah. “Saya juga sering mengajak ibu-ibu mengikuti pelatihan,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah