KEDIRI, JP Radar Kediri - Saat berkunjung ke Kawasan Gereja Katolik St. Maria kita akan mendapati banyak penjual kerajinan. Seperti halnya kerajinan patung hasil pahat Yohanes.
“Saya mulai memahat patung sejak tahun 2000,” cerita Yohanes saat ditemui oleh wartawan Jawa Pos Radar Kediri.
Yohanes bercerita bahwa usahanya tersebut turun-temurun. Dia meneruskan usaha kakek dan ayahnya. Dari keduanya, dia belajar memahat patung dari kayu. Ayah dari tiga anak ini butuh sketsa secara detail.
Dengan menggunakan pensil dan penggaris untuk mengukur jarak perbandingan anatomi. Semua kemampuan ini didapatkan dengan memperhatikan karya foto. “Saya mengamati karya dari Michelangelo dan Leonardo da Vinci. Meski hanya dari sebuah foto,” ucap.
Untuk mendalami anatomi, Yohanes memanfaatkan istrinya sebagai model. Dengan kemampuannya tersebut, dia dapat memahat patung dengan berbagai ukuran. Selain detail lekukan yang rumit, ekspresi wajah juga harus sesuai.
Selama membuat patung, hal yang sempat mengganggu pikirannya adalah dengan tidak dihargai hasil karyanya. Seperti banyak orang yang datang ke tempatnya mengatakan membeli patung buatannya. Namun ia merasa tidak menjual selain di rumahnya.
Yohanes sempat vakum memahat patung pada 2017 silam. Dia menggeluti pekerjaan lain. Namun, upayanya tersebut tidak berjalan sesuai rencana. Hingga akhirnya dia memutuskan kembali memahat patung. Ditambah, dia pernah berjanji untuk menjalani kebiasaannya tersebut.
“Saya bilang kepada anak saya, kalau saya sehat lagi akan kembali membuat patung,” kata Yohanes.
Singkat cerita Yohanes sembuh setelah tiga minggu jatuh sakit. Menurutnya kesembuhannya karena karunia Tuhan. Menepati janjinya, dia langsung kembali membuat patung. Meski baru sembuh dari sakit, dia justru semakin produktif dalam berkarya.
Jika biasanya satu patung membutuhkan waktu 1-2 minggu, kini hanya membutuhkan 2-3 hari. Untuk tahun ini, dia menargetkan akan membuat patung sebanyak 100 buah.
Tempat Ibadah Ikonik, Ramai Dikunjungi Banyak Kalangan
Di Desa Puhsarang terdapat gereja ikonik. Usianya sudah puluhan tahun. Namanya adalah Gereja Katolik St. Maria. Biasa dikenal sebagai Gereja Puhsarang.
Tidak seperti atap gereja pada umumnya, Gereja Puhsarang ini menggunakan atap joglo. “Pembangunan gereja puhsarang ini dilakukan pada tahun 1936,” terang Ketua Dua Badan Pengelola Peziarah Puhsarang (BP3) Daniel.
Daniel mengatakan, jika membicarakan Gereja Puhsarang berarti juga membicarakan sejarah peradaban. Karena pada tahun 1931, Romo Jan Wolters PM datang di Puhsarang. Pada saat itu, sang pastor melihat kondisi warga setempat banyak yang belum mendapat pendidikan layak.
“Karena pada waktu itu tidak ada prasarana pendidikan, hal yang pertama dilakukan adalah membangun sekolah,” imbuhnya. Pada saat itu sekolah yang dibangun hanya sebatas kelas satu hingga tiga. Dibangunnya sekolah sejatinya bukan bertujuan untuk menyebarkan agama. Namun agar warga sekitar mendapat akses pendidikan.
Setelah pembangunan sekolah, baru pada tahun 1936 gereja ini didirikan. “Untuk membangun sebuah peradaban itu perlu sebuah budaya. Sehingga Romo Wolters belajar budaya,” ungkap Daniel.
Pastor Wolters selain belajar bahasa juga budaya dan kerohanian Jawa. Terutama majapahit. Sehingga jika dilihat, Gereja Puhsarang tidak seperti gereja eropa. Jika umumnya atap berbentuk kerucut, gereja ini menggunakan atap joglo.
Semua yang berada di gereja ini memiliki makna simbolis. Makna simbolis ini sangat berkaitan erat dengan budaya. Untuk bahasa menggunakan Bahasa Jawa. Sedangkan iringan musik menggunakan gamelan.
Jauh sebelum adanya jalan salib seperti sekarang, dulu di tembok pagar gereja terdapat relief jalan salib. Relief jalan salib tersebut terbuat dari tanah liat. Dengan kondisi masyarakat yang saat itu belum dapat membaca, relief ini sangat berguna.
Masih dalam satu kawasan, terdapat Gua Maria Lourdes Puhsarang yang menjadi salah satu tempat ziarah umat Katolik. Tinggi gua mencapai 18 meter. Gua ini merupakan replika Gua Lourdes yang ada di Prancis. Di dalam gua terdapat patung Maria Lourdes yang memiliki tinggi mencapai 3,5 meter. Lebih besar dibanding patung aslinya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah