KEDIRI, JP Radar Kediri - Bunga hias yang terbuat dari bahan dasar stocking nampaknya masih jarang ditemui Kediri. Heri Samsudin adalah salah satu dari sedikit pengrajin bunga unik ini. Sesuai dengan namanya, bunga ini terbuat dari stocking.
“Stocking yang digunakan adalah stocking KW. Yang tidak digunakan untuk baju,” terang Heri Samsudin, 32, warga Desa Bulupasar.
Meski belum ada satu tahun membuka usaha, kreasi banyak diminati. Pasalnya, stocking tersebut dapat dibentuk menjadi aneka bunga. Mulai dari bunga anggrek, mawar, tulip, hingga bonsai. Ide membuat kerajinan ini muncul karena keinginannya mengisi waktu luang.
Baca Juga: Profil Desa Brumbung, Kepung, Kabupaten Kediri: Punya UMKM Pembuatan Bantal yang Unik
"Awalnya diajak teman untuk melihat pembuatan kerajinan serupa di wilayah Nganjuk. Kemudian berawal dari melihat itu saya jadi tertarik dan mengembangkannya di rumah hingga saat ini," ceritanya.
Selain kain stocking, bahan yang digunakan antara lain kawat metalik, putik imitasi, benang, dan lem putih. Pembuatan bunga hias memang lebih rumit. Dimulai dari pembentukan pola bunga atau daun menggunakan kawat tipis yang lentur. Kemudian kawat dimasukkan ke dalam kain stocking sesuai warna yang akan dibuat. Kain stocking ditumpuk dua sampai tiga kali agar tidak mudah robek.
Kain stocking mudah dibentuk sesuai pola, karena langsung mengikuti pola yang ada. Untuk tangkainya dia juga menggunakan kawat. Tetapi ukurannya lebih besar. Kawat dibungkus dengan selotip khusus tangkai bunga berwarna warni sesuai permintaan, baru dirangkai.
Baca Juga: Profil Desa Sekoto, Badas, Kabupaten Kediri: Desa yang Terkenal dengan Batik dan Bawang Merahnya
“Karena keterbatasan modal, selama ini hanya membuatkan yang memesan,” ungkap Heri. Satu pot bunga biasa dijual dengan harga Rp 30 ribu. Yang paling besar dia pernah membuat setinggi kurang lebih satu meter. Sedangkan untuk bonsai dapat dijual dengan harga ratusan ribu rupiah.
Konsisten Rawat Keasrian Sendang Jogo Towo
Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu memiliki sebuah mata air yang lokasinya dikelilingi oleh persawahan luas. Nama sumber tersebut adalah Jogo Towo. Sayang, sumber airnya kini semakin surut akibat kemarau panjang.
Agar kebersihan tetap terjaga, pengunjung harus menaati beberapa peraturan di sana. “Sendang ini mulai dibangun sekitar tahun 2020,” jelas Mbah Kusen, juru kunci Sumber Jogo Towo.
Setelah dilakukan pembangunan pada 2020, Sendang Jogo Towo mulai dilengkapi oleh beberapa fasilitas. Mulai dari akses jalan yang sudah berupa paving, tempat parkir, tempat cuci atau wudhu, musala dan toilet. Bahkan akibat pembangunan membuat banyak orang yang mengetahui sendang.
“Tujuan orang mengunjungi sendang bermacam-macam,” tutur Mbah Kusen. Dari pengamatan yang dilakukan, setidaknya ada dua kolam di sana. Dua-duanya kerap dijadikan tempat berendam oleh pengunjung. Sayang di dua kolam itu airnya mulai surut. Saat musim kemarau seperti saat ini ketinggiannya hanya sebatas mata kaki.
“Setiap musim kemarau airnya surut, nanti kembali tinggi saat musim hujan,” kata Mbah Kusen. Menurutnya, sumber tersebut sudah ada sebelum dibangun desa. Sendang Jogo Towo sendiri memiliki arti, yaitu menjaga air.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah