JP RADAR KEDIRI-Desa Sekoto dan Batik Suminar sangat lekat. Keduanya seakan tak bisa dipisahkan. Jika menyebut Desa Sekoto agak kita akan selalu teringat dengan batik buatan Suminarwati.
Butik yang berada di Desa Sekoto ini kreatif memperkenalkan potensi desanya melalui karya batik. Mereka juga mampu mengajak warga sekitar untuk bekerja di butik ini. Ditemui di rumahnya kemarin siang, Suminar menerangkan bahwa karya-karya motif batiknya banyak terinsipasi dari hal yang ada di sekitarnya.
Semua yang ada di Kabupaten Kediri sudah pernah menjadi motif batik. Mulai dari hasil alamnya hingga tempat wisatanya. “Semua yang ada di sekitar saya bisa menjadi inpirasi dalam membuat motif batik,” terang Suminar.
Sehingga tidak heran jika peminat batik buatannya tidak hanya dari Kediri saja. Melainkan hingga luar kota. Agar tetap eksklusif batik tersebut tidak dibuat dalam jumlah yang banyak. Selain menyediakan dalam bentuk kain, juga ada yang sudah ready to wear.
Baca Juga: Melihat Aktivitas Narapidana Lapas Kediri Berkegiatan di SAE Lakuli sebelum Kembali ke Masyarat
Desa Sekoto tidak hanya terkenal oleh bawang merahnya saja. Namun juga dengan Jambu Mente dan Sawonya. Suminar juga sempat membuat batik dengan motif berjudul Sawo Mente Badas.
Sebelum mengembangkan batik pada tahun 1984, ia terlebih dahulu mendirikan usaha garmen. Barang produksinya tidak hanya di jual di kediri saja. Tetapi hingga luar pulau.
Berusaha tetap bertahan pada masa itu, banyak hal yang dilakukannya. Salah satunya dengan menggaji karyawan dengan uang gajinya sebagai pns. Demi bertahan hidup, selama satu tahun ia hidup seadanya.
Ibu dari empat anak ini menyadari, dengan adanya wabah korana ini banyak masyarakat akan lebih mementingkan kebutuhan pokok. “Meski saya tetap produksi namun akhirnya nanti bakal menumpuk karena tidak ada yang membeli,” imbuhnya. Namun usahanya masih tertolong karena masih terdapat pesanan seragam dari beberapa instansi.
Baca Juga: Menelusuri Sumber-sumber Air di Kediri: Sumber Sendang Beri Banyak Manfaat, tapi Tidak Terawat
Konsisten Geluti Usaha Pengolahan Berambang Goreng
Bawang merah di Desa Sekoto tak hanya dijual mentahnya saja. Warga setempat juga mengolahnya menjadi produk olahan berambang goreng. Salah satunya Nining Paradita. Dia memulai usahanya sejak 2017. Berawal dari melimpahnya hasil panen orang tua. Lantas terbersit ide untuk mengolahnya.
“Saya jadikan berambang goreng. Dulunya daripada gak ngapa-ngapain, lihat panenan brambang banyak jadi ingin goreng sendiri,” terangnya.
Hingga kini Nining masih terus berproduksi. Saat pandemi pun ia tak merasakan dampak signifikan. “Saya rasa penjualan juga tetap walaupun masa pandemi,” akunya
Hasil olahan berambang goreng Nining beda dengan lainnya. Terutama dari kualitas dan rasa. Dia lebih mengutamakan bahan baku yang sehat dan baik. Tidak pakai tepung ketika mengolahnya.
“Ini asli gak pakai pengawet, juga bukan bawang sortiran. Saya ambil yang masih bagus-bagus,” kata Nining. Walau tidak setiap hari memproduksi berambang goreng, pelanggannya tetap setia. Dia juga menjualnya ke luar kota. Selain itu pemilik toko sekitar desa sering membeli produknya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah