Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Melihat Aktivitas Narapidana Lapas Kediri Berkegiatan di SAE Lakuli sebelum Kembali ke Masyarat

Novanda Nirwana • Senin, 20 Mei 2024 | 18:38 WIB
BERLATIH: Seorang WBP memberi makan kambing-kambing peliharaan di SAE Lakuli.
BERLATIH: Seorang WBP memberi makan kambing-kambing peliharaan di SAE Lakuli.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Pelaksana tugas (Plt) Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kediri Budi Ruswanto melangkahkan kaki di antara pohon-pohon rindang. Di dampingi oleh Kasubsi Sarana Kerja Suhartono, sang kalapas mengelilingi tempat yang berada di Gunung Klotok, Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto. Melihat beberapa aktivitas yang dilakukan oleh beberapa orang warga binaan pemasyarakatan (WBP), sebutan bagi narapidana.

Lahan yang didatangi Budi itu tak hanya diisi pepohonan rindang. Di tempat yang bernama SAE Lakuli itu ada pula tanaman pepaya serta kangkung. Tempat ini ibarat lahan percontohan bagi para WBP. Sebelum mereka menjalani masa bebas.

“Ini tempat mereka untuk belajar keterampilan sebelum bebas,” terangnya.

Ya, SAE Lakuli memang bukan sembarang tempat bercocok tanam atau berkebun. Namanya itu kependekan dari Sarana Asimilasi dan Edukasi Lapas Kulon Kali. Tiga kata awal menunjukkan fungsi dari lahan tersebut, sebagai lokasi asimilasi sekaligus edukasi. Sedangkan Lapas Kulon Kali untuk menyebut bahwa Lapas Kelas IIA Kediri berada di wilayah kulon kali, barat Sungai Brantas.

Saat ini ada sembilan napi yang berada di SAE Lakuli. Mereka adalah WBP yang telah  menjalani 2/3 masa hukuman. Selain itu, mereka juga dianggap berkelakuan baik dan ada jaminan dari pihak keluarga tak akan melakukan tindak kejahatan lagi.

Di tempat ini, para napi asimilasi berlatih bercocok tanam, beternak, budi daya ikan, dan keterampilan lain. Seperti membuat tempe. Bahkan, tempe produksi mereka tak hanya untuk konsumsi sendiri. Tapi sudah bisa dipasarkan di masyarakat.

“Dalam dua hari produksi tempe bisa mencapai 25 kilogram,” terang Suhartono.

Agar menghasilkan produk yang layak jual, pihak lapas menggandeng pihak ketiga, PT Bala Aditi Pakuati. Yang memberi resep membuat tempe secara tradisional. Nantinya, ada upaya untuk lebih memodernkan proses pembuatan tempe tersebut.

 “Kami siapkan rumah tempe yang memiliki standar kelayakan. Mulai dari tempat masaknya yang bersih dan higienis sehingga masyarakat bisa menikmati tempe hasil warga binaan,” jelasnya.

Untuk pemasaran, pihak lapas juga menggandeng pihak ketiga. Pihak ketiga inilah yang mengambil dan menjual produk tempe para WBP ke pasar-pasar di Kediri dan sekitarnya.

Sembari berbincang, Budi dan Suhartono terus melangkahkan kaki. Di dekat kolam yang berisi nila dan gurami, langkah keduanya berhenti.

“Ikan-ikannya ini baru bisa dipanen September ya?” tanyanya kepada beberapa  petugas lapas yang berjaga. Yang disambut anggukan kepala sebagai tanda mengiyakan.

Untuk budi daya ikan, tak hanya nila dan gurami yang ditabur di kolam-kolam yang ada. Juga ada budi daya ikan lele. Yang sekali panen, selama dua hari sekali, bisa mendapatkan 50 kilogram. Yang langsung dijual di pasar-pasar.

“Biasanya dalan sepuluh hari mereka (para penampung hasil panen ikan) ke sini sebanyak enam kali,” ungkap Suhartono.

Ada pula tenak yang berisi 15 ekor kambing. Bulan depan, saat Idul Kurban, ada dua ekor yang bisa disembelih. Dan terakhir, ada budidaya jamur di ruangan

berukuran 7 x 4 meter. Setiap harinya jamur tiram bisa dipanen hingga dua kilogram.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#idul adha #Lapas Kediri #kambing #narapidana #Qurban #nusakambangan