JP Radar Kediri - Aditya Ardhani, Terpaksa Putus Sekolah demi Merawat Ayah-Ibunya yang Stroke.Tak Punya Biaya untuk Melanjutkan Pendidikan di Kediri.Usianya baru 13 tahun. Namun sudah memikul tanggung jawab besar, merawat kedua orang tuanya yang stroke. Membuatnya harus rela putus sekolah.
Rumah tua itu berada di Dusun Kemuning. Salah satu dusun di Desa Tiru Kidul, Kecamatan Gurah. Catnya sudah terlihat sangat pudar. Dindingnya pun ditumbuhi lumut di sana-sini. Belum lagi retak-retak di beberapa bagian.
Lebih mengenaskan adalah bagian atas. Hanya separo yang beratap, di bagian depan saja. Yang bagian bawahnya berfungsi sebagai tempat tidur, tempat menyimpan buku-buku, juga dapur untuk memasak. Lubang-lubang ventilasi yang ada ditutup dengan bahan bekas banner. Agar mengurangi dinginnya udara di malam hari.
Dari dalam rumah yang kurang layak huni itu terdengar tawa. Merek a adalah keluarga pemilik rumah, yang walau dalam kondisi serba kekurangan dan sakit tapi masih bisa bersenda gurau.
“Ya begini ini, walaupun kondisi seperti ini, harus banyak bersyukur,” ucap Supriyanto, sang kepala keluarga.
Lelaki itu berbicara sembari duduk di kursi roda. Bicaranya cedal, maklum, tengah terkena stroke. Membuat kata-kata yang terucap tak terlalu jelas di pendengaran lawan bicaranya.
Bagian belakang rumah tidak terdapat atap. Beberapa ruangan di bawahnya ditumbuhi tumbuhan liar. Yang rimbun dan lebat karena sering terkena hujan dan panas.
Baca Juga: Profil Desa Gedangsewu, Pare, Kabupaten Kediri: Warga Sulap Pohon Limbah Kopi Jadi Karya Seni
Rumah ini belum lama ditempati keluarga Supriyanto. Selain dirinya ada sang istri, Samini, serta anak tunggalnya, Aditya Daifa Ardani. Ironisnya, sang istri juga terkena stroke. Sehingga sulit untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Praktis, yang melakukan semua pekerjaan adalah Adit-panggilan sang anak. Terutama melayani kebutuhan kedua orang tuanya itu.
Keluarga ini baru mendiami rumah tua itu sekitar tiga bulan terakhir. Sebelumnya mereka tinggal di Kelurahan Turi, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar. Mereka terpaksa pindah karena habis masa sewanya mereka terpaksa harus meninggalkan rumah kontrakan tersebut. Pulang ke kampung halaman Samini. Menempati rumah warisan yang sudah belasan tahun tidak dihuni dan dirawat. Yang sebagian besar bagian rumah sudah rusak.
“Karena masa kontraknya habis, terus saya tidak kerja. Kalau tetap tinggal di sana (rumah kontrakan di Kota Blitar), nanti yang bayar siapa?” ucap Supriyanto dengan nada tanya.
Baca Juga: Menelusuri Sumber-sumber Air di Kediri: Sumber Buntung Jadi Tempat Mandi dan Cuci Baju Warga
“Dulu ini rumah mertua. Terus ini jatah istri saya. Tapi karena saya ajak ke Blitar, jadi sempat dipakai kakaknya selama dua tahun. Sambil menunggu rumah yang dibagunnya jadi,” imbuhnya menjelaskan asal-usul rumah yang ditempatinya itu.
Ketika di Blitar, Samini bekerja sebagai tukang pilah sampah di tempat pembuangan sampah akhir (TPA). Sementara Supriyanto pekerja pekerja proyek, biasa disebut tukang bangunan, yang sering kerja di luar Jawa.
Hingga pada 2020, keluarga ini terkena musibah. Saat itu Minggu, Adit yang libur kebetulan di rumah. Samini sedang menyapu. Tiba-tiba saja terjatuh. Adit yang panik langsung berteriak meminta pertolongan tetangga.
“Tetangga langsung bawa ibu ke rumah sakit,” kenang Adit. Matanya berkaca-kaca ketika bercerita. Tidak lama air matanya tumpah. Samini yang duduk di tempat tidur ikutan terisak.
Baca Juga: Inilah Sosok Misbachul Munir, Anak Gen Z yang Masih Mau Menekuni Kerajinan Para Orang Tua
Saat itu, Adit meneruskan cerita, dia harus menemani ibunya di rumah sakit. Selama beberapa hari absen dari sekolah. Baru beberapa hari kemudian sang bapak bisa pulang dari perantauan.
Sejak saat itu tidak seperti anak umumnya yang bisa bermain dengan leluasa, Adit harus terus membantu ibunya yang stroke. Saat pagi sebelum berangkat, dia menyempatkan untuk bersih-bersih rumah dan memasak. Sepulang sekolah, dia juga merawat sang ibu. Sementara bapaknya bekerja serabutan sebagai tukang.
Hingga pada 2023, hal yang sama menimpa Supriyanto. Dia juga terkena stroke. Membuatnya tidak bisa bekerja. Adit yang meninginjak bangku SMP pun harus lebih intens merawat orang tuanya.
“Sejak itu jadi mengandalkan tabungan. Saat sudah habis ya mengandalkan bantuan dari pemerintah (Kota Blitar) dan juga tetangga,” aku Supriyanto.
Baca Juga: Inilah Sosok Misbachul Munir, Anak Gen Z yang Masih Mau Menekuni Kerajinan Para Orang Tua
Hingga mereka terpaksa pindah ke Kediri. Adit pun harus rela putus sekolah. Selain karena fokus merawat kedua orang tuanya, juga karena tidak punya biaya untuk melanjutkan sekolah di Kediri.
Di tengah perbincangan, tiba-tiba Samini menangis. Adit dengan sigap berupaya menghibur. Memperdengarkan lantunan ayat suci Alquran dari gawai. Seperti kebiasaan selama ini, agar emosi sang ibu bisa stabil. Benar saja, Samini mengalihkan emosinya dengan mendengarkan lantunan ayat suci.
“Memang karena kena stroke, syarafnya jadi kena. Emosi tidak stabil. Untuk menenangkan diri, kebiasaannya mendengarkan lantunan Alquran seperti itu,” terang Supriyanto mencearitakan kebiasaaan istrinya itu.
Sayangnya, kondisi seperti itu kemungkinan masih harus dirasakan keluarga ini untuk beberapa lama lagi. Sebab, dia saat ini masih berstatus warga Kota Blitar. Sehingga belum memungkinkan untuk segera mendapatkan skema bantuan seperti yang diterima di Kota Blitar sebelumnya.
“Untuk saat ini sedang mengurus berkas kependudukannya dulu. Agar bisa mengalihkan bantuan-bantuan yang diterima selama di Kota Blitar ke sini,” terang Plt Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kediri Ariyanto, yang mendatangi keluarga ini kemarin siang. Termasuk untuk beasiswa agar Adit bisa kembali bersekolah.
“Pengen bisa sekolah lagi, tapi juga pengen merawat orang tua. Kasihan sama orang tua,” aku Adit.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah